Lapangan SMA Negeri 1 Salatiga cukup luas. Saat ini, lapangan sedang direnovasi. Lapangan SMA Negeri 1 Salatiga sudah berumput, walaupun belum rata. Di sana juga masih dipasang banyak tali rafia, ada juga potongan-potongan bambu ditancapkan di sekelilingnya. Masih ada juga selang yang biasanya digunakan untuk menyirami rumput, masih tergeletak di sana.
Di sekeliling lapangan kini terdapat lintasan lari dan taman kecil. Banyak bunga yang ditanam di sana. Lapangan SMA Negeri 1 Salatiga dikelilingi banyak bangunan. Di sebelah utara ada gedung kelas X dan 3 pohon jambu air, yang katanya, jambu air dari pohon itu rasanya sangat manis. Di sebelah selatan ada gedung kelas XII, dan ada pohon-pohon yang tidak ada daunnya. Di sebelah timur ada ruang guru, lab, TU, kurikulum, dan beberapa tempat utama di SMA Negeri 1 Salatiga. Sedangkan di sebelah barat lapangan terdapat gedung kelas XI dan beberapa kelas X.
Suasana di lapangan ini sangat sepi,, tidak ada orang. Hanya ada banyak capung beterbangan di sana.
Hal pertama yang kulihat setelah mamasuki gerbang sekolahku ialah sebuah hamparan tanah yang cukup luas yang berada di tengah bangunan yang tidak terlalu besar ini. Ya, itulah lapangan yang ada di sekolahku ini. Nampak dari luar, di sekeliling lapangan utama ditanami pohon-pohon yang cukup besar. Terdapat beberapa jenis pohon yang ada di sekeliling lapangan itu, diantaranya pohon buah-buahan, jambu air, yang pada saat musim-musim tertentu berbuah cukup banyak. Para murid pun memanfaatkan momen tersebut dengan mengambil buah yang tumbuh.
Lapangan yang berbentuk persegi panjang itu dikelilingi oleh bangunan ruang kelas yang seakan-akan mengurung lapangan tersebut. Lapangan utama dikelilingi oleh lintasan lari yang terbuat dari batu bata yang telah ditumbuk yang memberikan gradasi warna yang cukup mencolok dengan bagian tengah lapangan utama yang ditanami rumput hijau segar. Diluar lintasan lari ini, ditanami rumput yang jenisnya berbeda dengan yang ada di lapangan utama. Di area itu juga terdapat tempat bagi pejalan kaki yang terbuat dari paving.
Bila diperhatikan, rumput yang ada di lapangan utama belum cukup rata karena memang belum lama ditanami. Di lapangan utama juga terbentang beberapa tali plastik yang saya juga tidak begitu tahu pasti apa gunanya. Sesekali para pekerja menyiram lapangan demi pertumbuhan rumput yang baik. Di salah satu sisi lapangan, berdiri dengan kokoh sebuah tiang untuk mengibarkan bendera. Capung-capung pun berterbangan diatas lapangan menambah keindahan lapangan yang diselimuti embun saat esok hari.
Inilah lapangan baru SMA NEGERI 1 SALATIGA, lapangan yang cukup indah, hijau, nan asri. Lapangan yang akan menyegarkan mata kita tiap melewatinya. Seluruh siswa pun nampaknya menantikan selesainya pengerjaan lapangan ini.
Temanku memanggilku untuk segera turun berkumpul bersama mereka, kemudian kami berdoa, lalu kami pulang dengan riang.
Hari Kamis, tepatnya tanggal 27 Oktober 2011, guru Bahasa Indonesia di SMA Negeri 1 Salatiga memberi tugas kepada siswa kelas X-10 untuk mengamati Lapangan SMA Negeri 1 Salatiga. Pukul 13.15 siswa kelas X-10 mulai mengamati lapangan tersebut. Cuaca saat itu sangat cerah. Udara jadi terasa panas. Tetapi pohon jambu di depan kelas X-8 telah meneduhkan kami dari panasnya terik matahari. Kamipun mengamati Lapangan SMA Negeri 1 Salatiga yang sedang dibangun.
Lapangan saat itu sangat sepi. Mungkin karena teriknya matahari, para pekerja yang bertugas merawat lapangan tersebut menjadi lelah dan beristirahat. Jadi pada saat itu tidak ada orang yang sedang menanam atau menyiram rumput di lapangan itu.
Nampak hamparan rumput hijau yang luas. Rumput tersebut belum sepenuhnya rata, tetapi sudah terlihat hijau. Disekelilingnya terdapat jalan yang diselimuti pasir berwarna merah bata, terdapat juga jalan setapak yang terbuat dari paving. Lapangan tersebut semakin cantik dengan rerumputan serta pepohonan yang ditanam di sekitar lapangan tersebut.
Beberapa peralatan untuk bertanam ada di tempat-tempat tertentu di sekitar lapangan. Diantaranya ada ember merah dan karung di salah satu sisi lapangan. Juga ada selang air berwarna putih lengkap dengan pompanya di bagian timur lapangan. Ada gerobak pasir berwarna merah yang berada di dalam bak pasir di bagian barat laut lapangan. Di dekat bak pasir ada pohon besar yang sangat rindang. Pohon itu semakin melengkapi kehijauan lapangan itu.
Sesekali seorang satpam melintas melalui jalan yang diselimuti pasir berwarna merah bata. Juga ada seorang guru yang berjalan di paving dan menyentuh tiang bendera dengan kagumnya. Dan ada juga beberapa siswa yang berjalan menginjak rumput di bagian barat daya.
Lapangan tersebut memang masih belum sepenuhnya jadi. Masih diperlukan beberapa perawatan di beberapa bagian lapangan itu. Tetapi keindahannya sudah terlihat saat itu.
Tak terasa, sudah lima belas menit kami mengamati lapangan itu. Jam sudah menunjukkan pukul 13.30. Kami pun berkumpul bersama, bersiap untuk pulang. Kamipun segera berdoa sebelum siswa kelas lain keluar dari kelasnya dan menjadi ramai. Untuk terakhir kalinya pada hari itu, aku memandangi lapangan sekolahku yang baru sebelum pulang. J
Oleh : Maestra Martadinatyugra / 14 / X-10
Kamis, 10 November 2011
LAPANGAN BARU SEKOLAHKU
Waktu itu pada tanggal 27 Oktober 2011 pukul 13.10 guru Bahasa Indonesia meminta kelasku untuk mendeskrisikan lapangan baru di sekolahku. Pukul 13.15 kelasku bersama-sama menuju lapangan. Akan tetapi, sepertinya kelasku kurang beruntung, karena pada saat itu lapangan sedang dalam keadaan yang sepi aktivitas. Pekerja-pekerja lapangan yang biasa terlihat kini bak hilang ditelan bumi. Sepanjang mata memandang aku hanya melihat hamparan rumput yang mulai menghijau yang dikelilingi lintasan tanah merah yang masih lembab beserta jalan setapak yang masih baru.
Rumput-rumput baru yang telah menghijau ternyata tak tumbuh sendiri, banyak rumput liar yang tak diharapkan ikut tumbuh di sela-selanya.Namun sayang, karena keberadaan rumput liar itu juga tak membantu menutupi petak-petak tanah keabu-abuan yang masih terlihat di bagian tengah dan selatan lapangan.
Tak banyak yang bisa diamati pada saat itu selain capung-capung kecil warna orange yang terbang rendah di lapangan rumput. Menikmati angin lemah yang hanya bisa menggoyangkan rumput yang tumbuh terlampau tinggi. Mungkin angin lemah itu juga yang telah membiarkan segerombol awan besar menutupi matahari di atas langit. Menyebabkan hijaunya rumput baru menjadi terlihat suram.
Kualihkan pandanganku ke sekeliling lapangan secara keseluruhan sampai pada alat-alat para pekerja yang ada di sana. Selang-selang tergeletak begitu saja di pinggir lapangan. Selang warna putih diletakkan di sebelah timur berdampingan dengan pompa air warna orange, kemudian selang hijau di barat laut lapangan tepat di bawah pohon apel yang rindang. Pada sebelah barat, kokoh berdiri tiang bendera baru yang dasarnya dibuat dari keramik warna merah tua berpadu dengan tiangnya yang berwarna putih. Tidak hanya itu, patok-patok bambu setinggi setengah meter mengelilingi lapangan rumput. Pada setiap bambu diikatkan tali raffia biru secara melintang, membagi lapangan menjadi beberapa bagian. Mungkin, dulu raffia itu digunakan sebagai patokan dalam menanam rumput-rumput agar tertanam rapi.
Setelah sekian lama mengamati, akhirnya mulai nampak aktivitas lain selain aktivitas pengamatan yang dilakukan kelasku. Diawali oleh Pak Satpam yang berjalan kearah kami melewati jalan setapak, kemudian kakak kelas melintas melewati jalan di sebelah selatan, lalu guru-guru lain juga ikut berlalu-lalang melewati jalan di sekeliling lapangan. Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 13.35 dan pengamatan pun harus segera diakhiri. Ketua kelas memimpin doa sebelum pulang. Tepat ketika aku hendak meninggalkan lapangan, matahari mulai bersinar cerah menampakkan hijau dan luasnya lapangan baru SMAN 1 Salatiga, sekolahku.
Rerumputan yang hijau terhampar di sepanjang lapangan baru sekolahku. Suara riuh teriakan dari kami anak sepuluh sepuluh disalah satu sudut lapangan merupakan tanda mereka sedang sibuk dengan pengamatannya. Lapangan berbentuk persegi panjang dan cukup luas disertai rumput yang baru tumbuh memenuhi pandanganku. Banyak daun berguguran mengotori tanah sekitar lapangan. Suasana disaat itu sepi hanya beberapa orang berlalu lalang. Tampak begitu banyak tali raffia biru membentang dari ujung lapangan. Ya, karena lapangan sekolahku masih dalam tahap pembangunan.
Di sebelah Timur terdapat tiang bendera yang tegak berdiri. Dan terdapat pula arena lintasan lari yang berwarna merah bata. Ada pula bak kotak pasir yang akan digunakan untuk olah raga. Di depan kelas X tumbuh tiga pohon jambu air yang pada saat itu sedang berbuah dan tak sedikit buah yang jatuh ke tanah dan akhirnya membusuk. Tanaman – tanaman kecil menghiasai sisi – sisi lapangan dengan kekhasan warnanya. Ada sesuatu yang unik yang terdapat didepan kelas XII terdapat lebih dari satu pohon yang gundul atau tidak mempunyai daun tetapi anehnya pohon – pohon tersebut hidup. Sekolahku sangat menjaga kebersihan, maka tak terelakan lagi jika banyak tempat sampah ada dipinggir lapangan.
Suasana sangat syahdu dan indah karena banyak capung dan kupu – kupu beterbangan diudara. Sayangnya tampak banyak kerikil menumpuk didepan kelas X8 mengurangi indahnya pemandangan. Selang putih besar, mesin dan “angkringan” juga memenuhi lapangan. Tampak pompa air yang akan digunakan untuk menyirami rumput supaya tidak kering.
Tiba – tiba cuaca hari itu mendadak menjadi sangat cerah. Sambil melirik kearah arlojiku yang sudah menunjukkan sekitar pukul setengah dua siang aku menyudahi pengamatanku. Menunggu bel berbunyi aku memutuskan untuk bercanda ria dengan teman – temanku. Tak lama kemudian bel pun berbunyi kami berdoa bersama dan akhirnya pulang.
Kamis 27 Oktober 2011, saya dan teman-teman saya mendapat tugas dari Bu Uswatun untuk mendeskripsikan lapangan SMA N 1 Salatiga. Ketika itu tepat pukul 13.10 WIB, kami keluar dari kelas menuju ke depan kelas X-8 untuk melakukan pengamatan terhadap lapangan SMA N 1 Salatiga. Sambil bergegas membawa tas, saya langsung mengamati kondisi lapangan SMAN N 1 Salatiga. SMA N 1 Salatiga sedang mengerjakan lapangan baru yang tepat berada ditengah-tengah SMA N 1 Salatiga.
Ketika tiba di depan kelas X-8, pandangan mata saya tertuju ke arah lapangan. Lapangan baru milik SMA N 1 Salatiga sedang dalam 80% tahap perbaikan. Lapangan ini cukup luas, cukup untuk menampung semua keluarga besar SMA N 1 Salatiga. Lapangan ini berbentuk seperti oval. Lalu saya mengalihkan pandangan saya ke pinggir lapangan. Terdapat beberapa pohon yang menghiasi pinggir lapangan.
Diantaranya adalah pohon jambu dan pohon mahoni. Namun yang paling menarik perhatian saya adalah pohon jambu, karena pohon jambu tersebut sedang berbuah, serta ada beberapa buah yang jatuh di dekat lapangan. Lalu saya mencoba mengamati lapangan lagi. Di lapangan, rumput sudah mulai tumbuh. Lalu terdapat tali rafia yang membentang membagi-bagi lapangan. Juga ada beberapa patok kayu yang menjadi pengikat tali rafia tersebut.
Lalu, saya mengalihkan pandangan saya ke arah barat lapangan. Disanan terdapat sesuatu yang tinggi. Ya betul, itu adalah tiang bendera SMA N 1 Salatiga, yang sering digunakan untuk upacara. Tiang tersebut merupakan sumbangan dari alumni SMA N 1 Salatiga angkatan 1979.Sekitar pukul 13.30 WIB, ada seseorang lelaki paruh baya yang melewati pinggir lapangan. Dia adalah satpam SMA N 1 Salatiga.
Di pinggir daerah timur, terdapat selang dan pompa air yang tidak tertata rapi. Lapangan ini juga dikelilingi jalan yang berpaving dan juga terdapat lintasan lari. Lalu ada beberapa orang yang sedang mencabuti rumput. Hal ini sangat diperlukan untuk menghindari rumput-rumput liar yang tumbuh di lapangan. Lalu pada daerah selatan lapangan, ada beberapa kakak kelas kami yang sedang menikmati indahnya lapangan yang sedang dalam tahap perbaikan ini pinggir kelas mereka.
Jam menunjukkan pukul 13.40 WIB, saya beserta teman-teman X-10 dan Bu Uswatun mengakhiri observasi kali ini dengan doa. Setelah selesai berdoa, saya bersama teman-teman bercanda ria menunggu bel berbunyi. Ketika bel berbunyi, saya dan teman-teman pulang dengan ceria.
Begitu memasuki kawasan kampus SMA Negeri 1 Salatiga, suara gemericik air yang berasal dari pancuran air menyambutku. Aku mulai melangkahkan kaki ke lapangan utama yang terletak di tengah-tengah kampus. Lapangan ini cukup luas, kurang lebih berukuran 50 kali 10 meter persegi. Setelah diperbarui, memang luas lapangan ini sedikit berkurang dibandingkan lapangan sebelumnya. Kurang lebih proyek ini sudah berjalan 85 persen.
Rumput hias yang ditanam di sekitar lapangan belum sepenuhnya jadi. Begitu pula tanaman hias yang berada di sebelah utara dan barat lapangan. Dengan menanam banyak tanaman hias dan rumput di sekitar lapangan diharapkan SMA Negeri 1 Salatiga dapat terlihat lebih ‘hijau’ dan ramah lingkungan.
Tiang bendera merah putih kokoh berdiri tegak di sebelah timur lapangan. Tiang bendera yang telah diperbarui ini merupakan sumbangan dari alumni SMA Negeri 1 Salatiga tahun 1976. Meskipun tiang bendera sudah terpasang namun upacara bendera belum dilaksanakan karena memang pembangunan lapangan ini belum 100 persen selesai.
Tepat di tengah lapangan terlihat pekerja yang sedang jongkok, ia sedang mencabuti rumput-rumput yang tidak diinginkan tumbuh. Ada pula 2 orang pekerja yang sedang menyirami rumput. Memang, untuk menghasilkan rumput yang baik, perawatannya harus baik pula, karena lapangan ini adalah jantung SMA Negeri 1 Salatiga.
Di sisi kanan dan kiri lapangan terlihat beberapa murid kelas XII yang sedang mengerjakan tugas sembari menikmati hembusan angin sepoi-sepoi. Memang, di siang hari pinggir lapangan adalah tempat favorit murid-murid untuk mengerjakan tugas atau sekedar menikmati keindahan lapangan.
Di sekeliling lapangan terdapat lintasan lari dan jalan berpaving. Tumbuh pula pohon-pohon yang rimbun. Pohon jambu, pohon palem, mahoni, dan lain-lain.
Sinar matahari terasa makin membakar kulit. Kulayangkan pandanganku ke jam tanganku, waktu menunjukkan pukul 1 siang. Aku merasa sudah saatnya aku pulang. Cepat-cepat aku melangkahkan kaki keluar kampus sembari menyapa teman-teman dan guru-guru yang aku temui di perjalanan.
Siang itu mata pelajaran Bahasa Indonesia merupakan pelajaran terakhir. Ibu Uswatun, guru mapel tersebut memberikan tugas untuk melakukan pengamatan di lapangan SMA Negeri 1 Salatiga. Pukul 13.10 WIB saya dan teman-teman memulai pengamatan.
Kami berkumpul di sekitar kelas X-8, dan mulai mengamati apa-apa saja yang ada di lapangan. Tiba-tiba semua anak langsung teralih ketika melihat Pak Satpam berjalan di lintasan lari lapangan. Dengan sigap sebagian besar, termasuk saya langsung menulisnya dalam buku kami masing-masing.
Tak berapa lama kemudian saya melihat seorang bapak guru berseragam batik merah marun berjalan melewati tiang bendera yang berada di sebelah barat lapangan. Tiba-tiba pandangan saya beralih ke tengah lapangan. Ternyata meski belum lama ditanam, rumput-rumput di lapangan sudah mulai menghijau. Pemandangan itu sangat menyejukkan mata yang sebelumnya berat karena mengantuk. Belum lagi beberapa capung yang menari-nari diatas lapangan menambah indah pemandangan siang itu.
Di bagian barat laut lapangan ada sebuah pohon sawo hijau yang disebelahnya terdapat sebuah gerobak pasir yang berwarna merah. Kemudian di bagian timur lapangan terdapat sebuah selang putih yang digunakan untuk menyirami rumput agar cepat tumbuh dengan subur.
Kemudian saya memperhatikan betapa banyaknya jambu air yang berjatuhan di tepi lapangan dekat tempat saya mengamati. Sungguh disayangkan, jambu-jambu itu justru menambah kotor pinggiran lapangan yang sebelumnya memang sudah banyak daun yang berserakan di tempat tersebut. Tapi lapangan ini memang sedang dalam tahap renovasi, jadi dapat dimaklumi bila masih belum maksimal. Untuk ke depannya, saya yakin lapangan SMA N 1 Salatiga yang baru akan menjadi lapangan yang rapi, bersih, dan nyaman.
Beginilah lapangan sekolahku. Aku dan teman-teman sekelaskuku mengamati keindahan lapangan dari ujung utara lapangan. Lapangan yang kondisinya dalam proses renofasi. Lapangan yang lumayan luas, dengan luas kira-kira sepuluh kali tujuh belas meter persegi. Seperempat dari lapangan tersebut di sekitar ujungnya sudah dipafing, dibuat untuk lintasan jalan. Sedangkan bagian inti lapangan dibuat berumput. Proses penanaman pun sudah mulai dilaksanakan. Penanaman rumput tersebut diatur dengan posisi penanamannyamenggunakan tali rafia berwarna biru dan hitam
Maklumlah kondisi lapangan sedang dalam proses renofasi, banyak benda-benda maupun material yang menunjang proses renofasi tersebut tergeletak di sekitar lapangan. Selang-selang air berwarna hijau berceceran dilapangan. Grobak pasir berwarna merah yang dibiarkan tergeletak di bagian barat daya lapangan. Ada juga 4 buah alat pel yang juga tergeletak di bagian utara lapangan.
Kuamati keindahan lapangan sekolahku. Banyak pepohonan yang tumbuh di sekitar pinggir lapangan. Daun-daun berguguran dari berbagai macam pohon yang tumbuh disana. Di dagian utara lapangan, ada tiga buah pohon jambu yang tumbuh. Banyak buah jambu yang jatuh secara alami tercecer ditanah dari pohon induknya. Sedangkan di bagian selatan lapangan, terdapat satu pohon jambu hijau yang tumbuh. Indahnya lapangan, juga terlengkapi dengan tumbuhnya pohon berbunga pink yang tumbuh lebat di bagian barat laut lapangan.
Kulihat awan begitu muram pertanda cuaca sedang mendung. Banyak capung yang berterbangan kesana kemari yang sepertinya para capung tersebut menikmati pula keindahan akan lapangan sekolahku. Ku mulai alihkan pandanganku tepat ke arah bagian selatan lapangan. Tiang bendera tegak berdiri menantang disana, kira-kira tingginya sekitar tujuh meter.
Kumulai melihat jam tangan yang terpasang di bagian kiri tanganku, tertunjuk pukul 13.40.. Guru bahasa Indonesia menyuruh kami berkemas-kemas. Ketua kelas memimpin doa sesuai agama masing-masing. Bel pulang pun berbunyi, pertanda kegiatan belajar mengajar pun berakhir.
Saat itu, Kamis, 27 Oktober 2011 aku berdiri tepat di depan kelas X-8 memandang ke arah lapangan, suasana sepi yang terlihat. Lapangan yang sedang dalam proses pembangunan ini terlihat sangat sepi, tak nampak seorang pun ada di lapangan.
Lapangan SMA Negeri 1 Salatiga masih dalam proses pembangunan. Masih nampak tali rafia berwarna biru dan hitam terpasang di lapangan. Lapangan akan di tanami rumput hijau dan di bagian pinggir lapangan dilengkapi lintasan lari yang terbuat dari bata merah. Tanaman-tanaman yang menghiasi pinggir lapangan sudah mulai tumbuh terlihat cantik dan indah.
Tiang bendera berdiri tegak di sebelah barat. Diantara tanaman-tanaman yang indah, terdapat juga kolam pasir yang berfungsi sebagai media lompat jauh atau lompat tinggi yang digunakan saat pelajaran olahraga. Saat melihat ke arah timur, aku melihat selang berwarna putih, yang sepertinya digunakan untuk menyirami lapangan agar rumput-rumput yang di tanam tumbuh subur. Dan kira-kira saat itu pukul 13.15 WIB, aku melihat Bapak Satpam berjalan melewati lintasan lari di pinggir lapangan.
Saat masih memandangi lapangan, aku juga melihat tiga siswa X-3 berjalan melewati lintasan lari dan menuju ke WC di sebelah timur lapangan. Ternyata walaupun proses pembangunan belum benar-benar selesai, namun lintasan lari sudah mulai digunakan asalkan tidak menginjak rumput yang ditanam di lapangan karena masih dalam proses pertumbuhan.
Mataku tetap terarah ke lapangan ini. Suasana saat itu mendung berawan. Ku lihatdaun-daun kering berguguran. Banyak buah jambu air jatuh. Lapangan yang sudah mulai hijau sangat enak di pandang mata. Banyak capung terbang kesana-kemari, begitu juga kupu-kupu yang menambah indahnya suasana siang itu.
Cuaca tidak begitu terik ketika aku memandangi lapangan sekolahku walaupun saat itu waktu menunjukkan pukul 13.10, aku berdiri memandangi lapangan sekolahku di depan kelas x-4 . Suasana di lapangan tampak sangat lengang, karena memang belum saatnya bagi kami untuk pulang. Hanya terlihat beberapa siswa yang melintas dipinggir lapangan dan juga beberapa ekor capung yang beterbangan menikmati hari yang cerah ini.
Sudah tiga bulan ini lapangan sekolahku mengalami perbaikan terlihat dengan kondisinya yang masih belum tertata rapi. Rumput-rumputnya sudah mulai menghijau. Namun tentu saja rumput-rumput itu belum menutupi seluruh lapangan masih ada celah-celah yang belum tertutupi. Beberapa rafia berwarna biru dan hitam juga masih terlihat melintang di lapangan terpancang di antara dua bambu, Mungkin rafia itu digunakan sebagai pembatas ketika rumput-rumput itu ditanam. Sebuah selang berwarna putih yang digunakan sehari-hari untuk menyirami tanaman tertata tidak rapi di salah satu sisi lapangan.
Sekarang disekeliling lapangan ada sebuah lintasan untuk berlari yang sebelumnya memang tidak ada. Lintasan itu terbuat dari serbuk batu bata yang mungkin memang ditujukan supaya lintasan tidak menjadi licin. Sebuah jalur yang diperuntukkan untuk para pejalan kaki sekarang juga ada di sebelah jalur untuk berlari. Sebuah tiang bendera terlihat berdiri kokoh memotong jalur untuk pejalan kaki, berlantai merah dan tiangnya yang berwarna putih.
Kulihat dibeberapa sudut lapangan beberapa daun yang mengering masih berserakan. Daun-daun itu berguguran dari pohon-pohon yang ditanam di sekeliling lapangan. Pohon jambu air yang ada di salah satu sudut lapangan juga sedang berbuah. Beberapa buahnya berjatuhan di tanah dan terlihat juga beberapa buahnya yang sudah memerah masih ada di pohonnya.
Tidak terasa bel pulang sekolah berbunyi. Seluruh siswa berhamburan keluar dari kelasnya untuk melakukan aktivitasnya yang lain. Sangat ramai sekali pinggir lapangan sekolahku. Namun itu jauh berbeda sekali bila aku melihat tengah-tengah lapangan yang tetap saja tenang dibawah sinar matahari.
Ketika saya dan teman-teman beranjak dari kelas X-10 menuju ke lapangan, udara terasa panas, matahari bersinar dengan teriknya. Pantas saja, saat itu jam menunjukkan pukul 13.15 WIB. Saya dan teman-teman memilih berada di bagian utara lapangan, di lantai dua, tepatnya di depan kelas X-4.
Mataku tak henti-hentinya memandang hamparan rumput yang hijau menyejukkan hati. Ditambah lagi dengan pasir merah di sekeliling lapangan yang menambah kontras keadaan lapangan. Di tepi lapangan juga terdapat jalan setapak yang terbuat dari paving.
Ketika kuarahkan pandanganku ke arah barat, berdirilah dengan tegak dan megahnya tiang bendera yang juga baru dibangun, kira-kira 20 m tingginya, alasnya berupa keramik berwarna merah kecoklatan. Kualihkan pandanganku ke arah barat laut, di mana terdapat sebuah pohon apel yang rimbun. Di samping kirinya juga terdapat gerobak pasir berwarna merah,serta kolam pasir yang digunakan untuk lompat jauh.
Tepat di sebelah utara lapangan, terdapat tiga buah pohon jambu air. Di bawah pohon tersebut tampak beberapa buah jambu air berwarna merah yang tergeletak di tanah. Di bagian utara ini, para siswa X-10 juga tengah asyik dan serius mengamati lapangan ini. Ada yang di pinggir lapangan, ada pula yang di lantai dua.
Saya mengalihkan pandangan lagi menuju arah timur, di mana pohon-pohon juga berjajar dengan gagahnya. Ketika diamati lebih detail lagi, di sebelah timur ini juga terdapat mesin pompa air yang berfungsi sebagai pemompa air untuk menyirami rumput-rumput. Tak jauh dari pompa air terdapat ember kecil berwarna merah, karung putih, dan selang berwarna yang sepertinya teronggok begitu saja.
Bunga-bunga yang tertata rapi nan elok semakin memperindah bagian selatan lapangan ini, di belakangnya juga dihiasi dengan poho-pohon yang tak kalah subur dan rindangnya, meskipun pada bagian barat daya tak nampak sama sekali adanya kesejukan seperti pada sudut lapangan yang lain. Yang ada hanyalah sebatang pohon beserta rantingnya yang berwarna coklat. Ya, bagian depan kelas XII IA 5 dan IA 6 ini memang lain.
Hamparan warna hijau lapangan Smanssa ini memang tak bosan-bosannya untuk dilihat, deretan kelas-kelas yang mengelilingi lapangan ini, membuatnya terlihat luas. Saya penasaran, bagaimanakah keadaanya jika lapangan kebanggaan warga SMAN 1 SALATIGA ini sudah selesai direnovasi? Kita tunggu saja.
SESEPUH SUGIH adalah singkatan dari Sepuluh-Sepuluh Santun Giat Intelek Heboh
Kami adalah anak-anak kelas X-10 di SMAN 1 Salatiga angkatan 2011
Kelas kami yang diketuai sama (sebut saja) "SI BOS" nggak pernah sepi, pokoknya seru banget :D
<3 sesepuh sugih