Tampilkan postingan dengan label argumentasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label argumentasi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 Maret 2012

Pendidikan Karakter Melalui Kantin Kejujuran


Nilai pendidikan karakter mulai dilupakan oleh banyak orang. Kedisiplinan, kesopanan, kejujuran, tanggung jawab, kerapian, dan ketertiban sudah tidak diutamakan lagi. Dengan banyaknya orang yang tidak mengerti tentang nilai karakter, maka banyak pula orang yang akan merasa dirugikan dengan perilaku mereka yang tidak mengerti tentang nilai karakter tersebut. Rupanya saat ini kejujuran adalah barang yang sangat mahal. Untuk mengatasi hal tersebut, maka pemerintah menggencarkan pendidikan karakter pada banyak kalangan, salah satunya pada sekolah-sekolah.
 Faktanya, sekarang ini persentase orang yang tidak jujur lebih banyak daripada orang yang jujur. Dengan kreatifitas sekolah, banyak diantara mereka yang mengajarkan tentang nilai karakter pada siswa dengan cara mendirikan kantin kejujuran di sekolah, salah satunya pada sekolah kita, SMA Negeri 1 Salatiga. Belum lama ini SMA Negeri 1 Salatiga mendirikan kantin kejujuran yang menyediakan alat tulis, berbagai makanan ringan, dan bermacam-macam minuman dengan harga yang terjangkau bagi siswa.
Usaha sekolah dalam mengajarkan kejujuran pada setiap siswanya dengan mendirikan kantin kejujuran sangat tepat. Banyak siswa di uji kejujurannya. Pada dasarnya, para siswa yang sudah mulai mengerti tentang nilai karakter dan menerapkan kejujurannya tidak akan merasa dihantui oleh rasa bersalah karena mereka sudah bersikap jujur.
Sayangnya, masih banyak juga siswa yang tidak mempedulikan kejujuran. Mungkin bagi mereka kejujuran adalah hal yang tidak penting sehingga mereka belum bisa berpikir panjang tentang apa yang terjadi apabila mereka tidak berperilaku jujur. Dalam penerapannya di kantin kejujuran, mereka dengan senang mengambil barang yang mereka butuhkan tanpa membayarnya. Jadi, usaha sekolah dengan mendirikan kantin kejujuran bagi siswa yang tidak mengerti nilai karakter akan sia-sia saja.
Dengan demikian, adanya kantin kejujuran pada sekolah-sekolah belum efektif. Kantin kejujuran akan sangat bermanfaat bagi siswa yang sudah mulai mengerti nilai karakter karena mereka dapat melatih kejujurannya melalui kantin kejujuran. Akan tetapi, mereka yang belum mengerti nilai karakter terutama nilai kejujuran juga tidak akan pernah mengerti apa sebenarnya manfaat bersikap jujur. Oleh karena itu, sekolah harus mencari alternatif lain dalam mengajarkan nilai karakter terutama nilai kejujuran pada siswanya, terutama pada siswa yang belum mengerti tentang nilai karakter.

Vania Elysia / 27

Kamis, 15 Maret 2012

Pemberlakuan Poin Pelanggaran

Saat ini tidak sedikit siswa yang sering melanggar peraturan sekolah dengan alasan “peraturan ada untuk dilanggar”. Jika dibiarkan, hal ini akan berakibat buruk. Tidak hanya untuk orang lain, diri sendiri pun akan terkena pengaruh yang buruk, seperti mendapat kesan buruk dari para guru, bahkan hingga dijauhi oleh teman-temannya karena dinilai terlalu “bandel”.
            Untuk mencegah naiknya angka pelanggaran siswa, ada baiknya diberlakukan sistem “Poin Pelanggaran”. Poin pelanggaran diberikan tiap kali siswa melakukan pelanggaran, seperti membolos, makan di kelas, dan tidak memakai seragam sesuai aturan. Selain itu, ditetapkan juga batas siswa bisa dikeluarkan dari sekolah karena sudah terlalu banyak “mengoleksi” poin. Jika tidak diberlakukan sistem poin, kemungkinan dalam suatu sekolah angka pelanggaran siswa akan terus meningkat, bahkan kemungkinan terburuknya, sekolah akan mendapat citra buruk di kalangan masyarakat.
            Apakah pemberlakuan sistem poin berpengaruh terhadap perilaku siswa? Tentu saja poin pelanggaran ini membuat siswa enggan untuk melanggar peraturan. Hal ini dibuktikan dengan seringnya siswa mengancam temannya yang akan melakukan pelanggaran menggunakan modus poin pelanggaran. Apalagi siswa baru di suatu sekolah, mereka cenderung masih berpegang pada peraturan sekolah. Jika tidak ada sistem poin pelanggaran, bisa saja mereka terpengaruh oleh kakak-kakak kelas yang sering kali “menyesatkan” mereka. Dengan adanya sistem poin, siswa baru akan berpikir dua kali untuk bertindak di lingkungan sekolahnya dan seiring berjalannya waktu, hal itu akan menjadi kebiasaan yang akan dibawanya ke tingkat selanjutnya. Jika siswa baru sudah terbiasa menaati peraturan sekolah, maka ketika mereka naik kelas, mereka akan membawa budaya itu, meskipun mereka tidak sadar.
            Sistem poin pelanggaran juga dapat membentuk karakter siswa. Dengan adanya sistem tersebut, siswa akan dilatih untuk taat pada peraturan, disiplin, dan bertanggung jawab, karena siswa akan berpikir dua kali jika akan melakukan pelanggaran. Meskipun masih ada siswa yang “hobi” melanggar peraturan, hal itu tidak akan separah jika tidak ada poin pelanggaran.

X-10 / 07

Kamis, 16 Februari 2012

Kantin Kejujuran, Pioner Pembentukan Karakter Bangsa

Kejujuran merupakan nilai yang wajib ada pada diri manusia. Pada zaman modern seperti ini, kejujuran mulai melemah, menurun bahkan lenyap. Tampak dari beberapa generasi muda yang sudah mulai mengambil jalan pintas dan tidak mengindahkan nilai kejujuran lagi. Maraknya korupsi, menurunnya solidarias antar SARA, dan timbulnya rasa egois menjadi suatu hal yang dapat membuktikan bahwa kejujuran sudah hilang dari dunia ini. Maka langkah apa yang dapat dilakukan untuk mengatasinya? Akhir – akhir ini sedang marak diadakanya pendidikan karakter oleh pemerintah yang bertujuan agar generasi muda mau menghargai dan menjunjung tinggi kejujuran sehingga tercipta kombinasi yang pas dan berkualitas. SMA Negeri 1 Salatiga sudah mulai menggalakkan sistem kantin kejujuran. Apakah sistem tersebut mampu dan efektif untuk membangun nilai karakter siswa?
Secara umum kantin kejujuran sama halnya dengan koperasi – koperasi sekolah yang lainnya. Namun, ada hal yang membuat mereka beda yakni sistemnya. Di koperasi kita dilayani oleh petugas ketika kita membeli sesuatu barang tetapi tidak bagi kantin kejujuran. Disana kita dapat mengambil dan membayar sendiri tanpa dilayani petugas satu pun. Mengapa kantin kejujuran menjadi alasan untuk membangun mental jujur? Apa manfaatnya?
Saat kita membeli barang yang kita butuhkan di kantin kejujuran, kita ditantang untuk berbuat jujur melalui barang yang kita ambil apakah sudah sesuai dengan harga yang ada, atau apakah kita akan mengambil tanpa membayar ? disinilah kejujuran dan mental kita diuji. Kepercayaan yang sekolah berikan melatih pula tentang kedisiplinan dan tanggung jawab. Melalui “kaju” yang berarti kantin kejujuran kita dibiasakan untuk tidak berhutang dan mendidik kita untuk mandiri dalam menentukan skala prioritas kebutuhan.
Semua cara di dunia ini pasti tak ada yang berjalan sesuai dengan rencana. Karena hampir seluruh siswa pada setiap harinya bertransaksi di kantin kejujuran membuat sulitnya mengawasi karakter siswa. Para guru pasti ingin  memantau dan mengamati gerak gerik setiap perubahan karakter anak didiknya. Namun, hal itu tidaklah mungkin karena mengingat begitu banyak siswa yang ada. Maka sistem kantin kejujuran tersebut perlu waktu yang tidaklah singkat untuk mengubah karakter siswa kearah baik. Perlu waktu beberapa bulan untuk bisa menarik kesimpulan berhasil atau tidakkah sistem ini mampu membangun karakter siswa.
Kantin kejujuran merupakan usaha yang dinilai unik tapi mampu membangun karakter secara efektif. Sebuah langkah awal yang pas untuk menciptakan generasi muda yang bermutu. Jika cara ini dinilai sekolah baik maka akan muncul cara – cara lain untuk melengkapinya. Misalnya dengan seminar atau lomba – lomba antar kelas yang dapat memupuk rasa kompak dan percaya diri antar siswanya sendiri. Kantin kejujuran menjadi pioner atau perintis dalam melahirkan bibit unggul yang jujur, disiplin, tanggung jawab dan mandiri. 

Angelita Dinda Arum Sari
X – 10 / 03

Selasa, 07 Februari 2012

Kantin Kejujuran

Kantin kejujuran adalah salah satu cara untuk menggalakkan pendidikan karakter yang saat ini sedang marak di Indonesia. Biasanya untuk mendidik karakter bangsa diadakan sosialisasi, kampanye, atau lainnya, dan kantin kejujuranlah yang paling mudah dan sering dijumpai oleh anak-anak sekolah yang di sekolahnya terdapat kantin kejujuran. Kantin kejujuran merupakan cara mendidik karakter yang bisa dikatakan baru tenar. Karena belum banyak sekolah yang menyediakan kantin kejujuran.
Dari namanya, sudah pasti sebuah kantin kejujuran mengajarkan untuk jujur. Sejak kecil, baik orang tua maupun guru pasti mengajarkan kepada anak-anaknya untuk tidak berbohong dan tidak mengambil sesuatu yang bukan haknya atau miliknya.
Anak-anak sekolah biasanya menggunakan uang mereka untuk membeli sesuatu seperti makanan, minuman, atau alat tulis. Karena kantin kejujuran berada di sekolah, maka anak pasti akan menjumpai kantin kejujuran setiap hari mereka bersekolah dan membeli makanan, minuman, ataupun alat tulis di kantin kejujuran tersebut. Meskipun anak yang membeli di kantin kejujuran jumlahnya lebih sedikit dari anak yang membeli di kantin biasa, tetapi  setidaknya, anak yang pernah membeli disana sudah dilatih untuk jujur.
Jika anak-anak zaman sekarang tidak berlaku jujur dalam hal keuangan, hal itu bisa disebut korupsi. Meskipun korupsi di kantin kejujuran merupakan korupsi yang tergolong kecil, tetapi jika kebiasaan itu tidak dihilangkan, maka akan membuat masa depan menjadi seorang koruptor. Dan semua tahu bahwa korupsi itu tidak baik.
Adanya kantin kejujuran di sekolah merupakan sarana yang baik untuk mendidik karakter seorang anak. Kantin kejujuran bisa melatih siswa untuk berlaku jujur. Kantin kejujuran akan sukses apabila siwa-siswi ikut berpartisipasi dengan cara membayar dan mengambil kembalian sendiri secara jujur. Selain siswa sendiri yang melakukan, orang tua maupun guru juga harus memberi pendidikan tentang keteladanan sejak dini.

Oleh : Maestra Martadinatyugra / 14

Rabu, 25 Januari 2012

Belajar Jujur dari Kantin Kejujuran

          Pendidikan dapat dilakukan melalui berbagai cara dan kegiatan. Bahkan tanpa kita sadari kita telah mendapat beragam jenis pendidikan seumur hidup kita. Tidak hanya pendidikan formal yang kita terima di bangku sekolah, melainkan juga pendidikan informal yang kita terima dari lingkungan sekitar kita. Dalam hal ini, pendidikan karakter masuk di dalam pendidikan informal. Sayangnya, beberapa tahun terakhir ini, pendidikan karakter mulai hilang dari perhatian kita. Menyebabkan munculnya berbagai kasus-kasus korupsi besar. 
Menyikapi fenomena sosial yang tidak menyenangkan ini, maka pemerintah mencanangkan pendidikan karakter sebagai program wajib sekolah. Beruntung, masyarakat menyambut program ini dengan positif. Mereka mulai sadar kembali akan pentingnya pemberian pendidikan karakter. Sebagai contoh yang menyambut baik program ini adalah SMA Negeri 1 Salatiga. Mereka menanggapi program ini dengan membuka Kantin Kejujuran sebagai tahap awal pengenalan karakter jujur. Kantin Kejujuran sebenarnya tidak banyak berbeda dari kantin-kantin biasanya. Namun, yang membedakan ialah tiadanya kehadiran penjual yang mengawasi para pembeli. Sehingga pembayaran harus secara sadar dan "jujur" dilakukan sendiri oleh pembeli yang tidak lain adalah para siswa.
Kantin Kejujuran ini menggunakan sisem penghitungan tertentu untuk mengetahui rugi atau tidaknya kantin. Apabila kantin mengalami kerugian yang besar, maka ini mengindikasikan bahwa nilai kejujuran dalam diri para siswa masih sangat kurang. Jadi, hal ini dapat digunakan sebagai alat ukur tingkat karakter jujur yang dimiliki siswa saat ini. Namun, sebaiknya kita jangan hanya berhenti pada tahap pengenalan, setelah mengetahui tingkat kejujuran para siswa, kita harus bisa menetukan langkah selanjutnya. Dalam langkah selanjutnya akan lebih baik bila tidak hanya pihak sekolah dan siswa yang dilibatkan, melainkan juga melibatkan orang tua murid dan masyarakat sekitar sekolah. Selain itu, apabila tingkat kejujuran siswa terbukti masih rendah dengan adanya kerugian pada kantin, harus segera dilakukan tindakan tegas. Tidak peduli kerugian itu besar atau kecil.
Membangun kembali karakter bangsa yang baik terutama kejujuran memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Karena itu, tindakan tidak jujur sekecil apapun harus segera mendapat tindakan yang tegas. Seringkali kita menggunakan jalan hukuman dan kekerasan sebagai jalan keluarnya. Namun, justru cara ini dianggap tidak efektif. Menurut beberapa penelitian, membangun karakter yang baik harus dilakukan secara eksternal dan internal agar kejujuran yang diajarkan dapat terikat erat dalam karakter siswa. Karenanya, Kantin Kejujuran digunakan sebagai sarana pendidikan karakter secara internal. Kejujuran memang tidak dapat dianggap enteng. Faktanya, akibat ketidakjujuran para koruptor banyak rakyat sengsara. Maka dari itu, apabila sifat buruk ini terlanjur tertanam di kalangan remaja yang didaulat sebagai penerus bangsa, apa kata dunia?
Oleh karena itu, program Kantin Kejujuran haruslah menuai banyak dukungan. Selain mengajarkan kejujuran, kantin ini juga dapat digunakan untuk sosialisasi karakter positif lainnya. Misalnya saja, budaya antre, menghormati orang lain, sabar, dan tidak egois saat ingin membeli makanan. Manfaat lain yaitu, tersedianya makanan yang lebih bersih dan sehat dibandingkan makanan yang dijual para penjaja di pinggir jalan. Beragam nilai positif yang terdapat dalam Kantin Kejujuran seharusnya semakin memotifasi kita untuk terus berupaya mengembalikan budaya dan karakter bangsa kita yang hilang.
Selanjutnya, kita hanya bisa berharap semua pihak yang bertanggung jawab dalam memberikan pendidikan karakter dapat terus berjuang. Sehingga dapat mengembangkan program-program lain yang lebih inofatif dan kreatif selain Kantin Kejujuran. Harapan ini harus didukung dengan partisipasi dari semua pihak berupa kritik dan saran terutama dari siswa itu sendiri.

oleh: Sesilia Anggi I. (24)