Tampilkan postingan dengan label paragraf argumentasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label paragraf argumentasi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Maret 2012

Apakah Kantin Kejujuran Benar-Benar Berpengaruh pada Pendidikan Karakter ?

Karakter jujur mulai terabaikan ? Ya, itulah yang terjadi saat ini. Anak-anak sudah tidak bisa menerapkan karakter kejujuran itu dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi sebenarnya tidak hanya anak-anak saja melainkan orang tua juga telah melupakan sifat jujur. Para pejabat tinggi misalnya, banyak fakta membuktikan ketidakjujuran mereka melalui tindakan korupsi.
                Oleh karena korupsi yang merajalela di Indonesia ini, membuat pemerintah khawatir pada para penerus bangsa. Para pejabat yang seharusnya bisa menjadi teladan bagi para penerus bangsa malah berbuat korupsi. Dan itu merupakan perbuatan yang sangat memalukan. Masalah yang sangat memprihatinkan ini harus segera diatasi agar tidak berdampak lebih buruk lagi. Salah satu usaha pemerintah dalam mengatasi masalah ini adalah dengan menggembar-gemborkan tentang pendidikan karakter. Berbagai upaya telah dilakukan seperti lomba-lomba, seminar dan lain-lain yang semuanya itu mengarah pada pendidikan karakter.
                Kantin kejujuran menjadi salah satu contoh upaya sekolah dalam membangun karakter siswa. Supaya hal ini lebih menekankan lagi , pemerintah membuat iklan ditelevisi yang mengajak generasi muda untuk bersikap jujur contohnya melalui kantin kejujuran. Itu semua dilakukan agar kita semua menjadi sadar akan pentingnya kejujuran. Prinsip dalam kantin kejujuran adalah kita mengambil dan membayar sendiri barang yang kita inginkan. Dalam hal ini, kejujuran kita sedang diuji. Apakah kita mengambil dengan membayar atau kita hanya mengambil saja. Atau mungkin kita membayar tidak dengan harga yang semestinya.Ya, itu semua terserah pada hati nurani kita masing-masing.
                Dalam pelaksanaannya juga tidak semua sekolah berhasil. Banyak juga sekolah yang mengalami kerugian karena ulah siswa yang tidak mau membayar. Ini berarti karakter kejujuran siswa di sekolah tersebt masih rendah. Sekolah masih harus berusaha keras untuk menanamkan pendidikan karakter lagi, walaupun itu tidak mudah, tetapi itu harus dilakukan agar siswa dapat memahami pentingnya kejujuran itu.
                Namun sebenarnya pengadaan kantin kejujuran ini tidak sepenuhnya berpengaruh pada karakter siswa. Banyak juga siswa yang tidak peduli dengan kantin kejujuran ini. Mereka lebih memilih untuk tidak membeli di kantin kejujuran, karena mereka dapat membeli di tempat lain. Akibatnya pembangunan pendidikan karakter ini tidak berpengaruh dan tidak membuat siswa menjadi siswa yang jujur.
                Itulah usaha-usaha pemerintah dalam pembangunan pendidikan karakter bangsa. Memang tidak semua usaha itu berhasil, tetapi semua usaha itu harus tetap dicoba. Pembentukan karakter memang seharusnya dilakukan sedini mungkin melalui keluarganya sendiri. Terutama orang tua karena orang tua mempunyai pengaruh yang besar dalam mendidik anaknya. Dan saat sudah mulai sekolah, maka pendidikan karakter itu diberikan melalui keluarga dan sekolah. Bagaimanapun keluarga mempunyai peranan yang penting dalam pendidikan karakter anak.



Christya Nur Febriani
X-10 / 04

Rabu, 21 Maret 2012

Pendidikan Karakter Melalui Kantin Kejujuran


Nilai pendidikan karakter mulai dilupakan oleh banyak orang. Kedisiplinan, kesopanan, kejujuran, tanggung jawab, kerapian, dan ketertiban sudah tidak diutamakan lagi. Dengan banyaknya orang yang tidak mengerti tentang nilai karakter, maka banyak pula orang yang akan merasa dirugikan dengan perilaku mereka yang tidak mengerti tentang nilai karakter tersebut. Rupanya saat ini kejujuran adalah barang yang sangat mahal. Untuk mengatasi hal tersebut, maka pemerintah menggencarkan pendidikan karakter pada banyak kalangan, salah satunya pada sekolah-sekolah.
 Faktanya, sekarang ini persentase orang yang tidak jujur lebih banyak daripada orang yang jujur. Dengan kreatifitas sekolah, banyak diantara mereka yang mengajarkan tentang nilai karakter pada siswa dengan cara mendirikan kantin kejujuran di sekolah, salah satunya pada sekolah kita, SMA Negeri 1 Salatiga. Belum lama ini SMA Negeri 1 Salatiga mendirikan kantin kejujuran yang menyediakan alat tulis, berbagai makanan ringan, dan bermacam-macam minuman dengan harga yang terjangkau bagi siswa.
Usaha sekolah dalam mengajarkan kejujuran pada setiap siswanya dengan mendirikan kantin kejujuran sangat tepat. Banyak siswa di uji kejujurannya. Pada dasarnya, para siswa yang sudah mulai mengerti tentang nilai karakter dan menerapkan kejujurannya tidak akan merasa dihantui oleh rasa bersalah karena mereka sudah bersikap jujur.
Sayangnya, masih banyak juga siswa yang tidak mempedulikan kejujuran. Mungkin bagi mereka kejujuran adalah hal yang tidak penting sehingga mereka belum bisa berpikir panjang tentang apa yang terjadi apabila mereka tidak berperilaku jujur. Dalam penerapannya di kantin kejujuran, mereka dengan senang mengambil barang yang mereka butuhkan tanpa membayarnya. Jadi, usaha sekolah dengan mendirikan kantin kejujuran bagi siswa yang tidak mengerti nilai karakter akan sia-sia saja.
Dengan demikian, adanya kantin kejujuran pada sekolah-sekolah belum efektif. Kantin kejujuran akan sangat bermanfaat bagi siswa yang sudah mulai mengerti nilai karakter karena mereka dapat melatih kejujurannya melalui kantin kejujuran. Akan tetapi, mereka yang belum mengerti nilai karakter terutama nilai kejujuran juga tidak akan pernah mengerti apa sebenarnya manfaat bersikap jujur. Oleh karena itu, sekolah harus mencari alternatif lain dalam mengajarkan nilai karakter terutama nilai kejujuran pada siswanya, terutama pada siswa yang belum mengerti tentang nilai karakter.

Vania Elysia / 27

Kamis, 16 Februari 2012

Kantin Kejujuran, Pioner Pembentukan Karakter Bangsa

Kejujuran merupakan nilai yang wajib ada pada diri manusia. Pada zaman modern seperti ini, kejujuran mulai melemah, menurun bahkan lenyap. Tampak dari beberapa generasi muda yang sudah mulai mengambil jalan pintas dan tidak mengindahkan nilai kejujuran lagi. Maraknya korupsi, menurunnya solidarias antar SARA, dan timbulnya rasa egois menjadi suatu hal yang dapat membuktikan bahwa kejujuran sudah hilang dari dunia ini. Maka langkah apa yang dapat dilakukan untuk mengatasinya? Akhir – akhir ini sedang marak diadakanya pendidikan karakter oleh pemerintah yang bertujuan agar generasi muda mau menghargai dan menjunjung tinggi kejujuran sehingga tercipta kombinasi yang pas dan berkualitas. SMA Negeri 1 Salatiga sudah mulai menggalakkan sistem kantin kejujuran. Apakah sistem tersebut mampu dan efektif untuk membangun nilai karakter siswa?
Secara umum kantin kejujuran sama halnya dengan koperasi – koperasi sekolah yang lainnya. Namun, ada hal yang membuat mereka beda yakni sistemnya. Di koperasi kita dilayani oleh petugas ketika kita membeli sesuatu barang tetapi tidak bagi kantin kejujuran. Disana kita dapat mengambil dan membayar sendiri tanpa dilayani petugas satu pun. Mengapa kantin kejujuran menjadi alasan untuk membangun mental jujur? Apa manfaatnya?
Saat kita membeli barang yang kita butuhkan di kantin kejujuran, kita ditantang untuk berbuat jujur melalui barang yang kita ambil apakah sudah sesuai dengan harga yang ada, atau apakah kita akan mengambil tanpa membayar ? disinilah kejujuran dan mental kita diuji. Kepercayaan yang sekolah berikan melatih pula tentang kedisiplinan dan tanggung jawab. Melalui “kaju” yang berarti kantin kejujuran kita dibiasakan untuk tidak berhutang dan mendidik kita untuk mandiri dalam menentukan skala prioritas kebutuhan.
Semua cara di dunia ini pasti tak ada yang berjalan sesuai dengan rencana. Karena hampir seluruh siswa pada setiap harinya bertransaksi di kantin kejujuran membuat sulitnya mengawasi karakter siswa. Para guru pasti ingin  memantau dan mengamati gerak gerik setiap perubahan karakter anak didiknya. Namun, hal itu tidaklah mungkin karena mengingat begitu banyak siswa yang ada. Maka sistem kantin kejujuran tersebut perlu waktu yang tidaklah singkat untuk mengubah karakter siswa kearah baik. Perlu waktu beberapa bulan untuk bisa menarik kesimpulan berhasil atau tidakkah sistem ini mampu membangun karakter siswa.
Kantin kejujuran merupakan usaha yang dinilai unik tapi mampu membangun karakter secara efektif. Sebuah langkah awal yang pas untuk menciptakan generasi muda yang bermutu. Jika cara ini dinilai sekolah baik maka akan muncul cara – cara lain untuk melengkapinya. Misalnya dengan seminar atau lomba – lomba antar kelas yang dapat memupuk rasa kompak dan percaya diri antar siswanya sendiri. Kantin kejujuran menjadi pioner atau perintis dalam melahirkan bibit unggul yang jujur, disiplin, tanggung jawab dan mandiri. 

Angelita Dinda Arum Sari
X – 10 / 03

Rabu, 15 Februari 2012

Pemberlakuan Sistem Poin Terhadap Siswa yang Melanggar Peraturan

 
            Akhir-akhir ini semakin banyak siswa yang mulai melakukan tindakan indisipliner. Hal ini membuat siswa yang ingin tertib, serta sebagian masyarakat terganggu. Beberapa aktivitas yang dianggap tidak tertib dan mengganggu sebagian masyarakat sekolah diantaranya adalah siswa yang membolos pada jam pelajaran lalu pergi ke jalan dan mabuk. Hal itu tentunya sangat mengganggu aktivitas masyarakat dan warga sekolah. Hal-hal yang dianggap pelanggaran di sekolah adalah segala aktivitas yang dianggap tidak tertib dan mengganggu masyarakat dan warga sekolah. Maka dari itu, banyak sekolah yang memberlakukan sistem poin untuk membatasi aktivitas siswa yang tidak berkenan.  
            Sistem poin yang dimaksud adalah apabila ada siswa yang melanggar peraturan akan diberi poin. Apabila siswa tersebut mencapai poin sudah ditentukan oleh pihak sekolah, maka akan diberi sanksi-sanksi tertentu, sesuai dengan jumlah poin yang sudah dicapai oleh siswa itu. Tapi, akankah cara tersebut efektif ? Jawabannya adalah ya. Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa anak yang takut akan hukuman pasti akan berusaha untuk tidak mendapatkan hukuman. 
            Hal ini seharusnya mulai diterapkan di semua sekolah. Aktivitas dan kegiatan siswa perlu dibatasi untuk meminimalisir tingkat kenaikan tindakan indisipliner siswa. Pemberlakuan sistem poin ini perlu dilakukan sangat ketat, serta semua warga sekolah termasuk para siswa diwajibkan mengerti tentang pemberlakuan sistem poin yang dilakukan oleh sekolah tersebut. Tentu saja kegiatan ini perlu dukungan dan partisipasi semua pihak. Apabila tidak, tentunya pemberlakuan sistem poin terhadap siswa yang melakukan pelanggaran akan sia-sia.
             Setiap guru menjadi pemegang peran yang sangat penting dalam kegiatan ini, karena guru-lah yang melakukan pengamatan dan melakukan tindakan pencatatan poin kepada siswa yang melanggar peraturan sekolah. Sikap guru yang melakukan aktivitas tersebut diharapkan bertindak tegas dan tidak pandang bulu. Akan tetapi, ketika siswa tersebut ditinggal oleh guru, mungkin mereka melakukan tindakan pelanggaran. Agar tidak terjadi tindakan pelanggaran, dibutuhkan kerjasama dari siswa yang melihat temannya yang melakukan tindakan pelanggaran. 
            Selain hal-hal yang sudah dikemukakan tadi, juga diperlukan arahan dari pihak sekolah agar setiap siswa memahami peraturan yang diberlakukan oleh sekolah tersebut. Juga diperlukan bimbingan moral dan motivasi dari setiap guru yang mengajar. Faktor-faktor tersebut harus terjaga semua agar pemberlakuan sistem poin berjalan dengan lancar. Setelah itu, juga diperlukan evaluasi untuk mengurangi kelemahan sistem poin. 
 IRIANTO JUSTISILVAWAN
X-10
 12



Selasa, 07 Februari 2012

Kantin Kejujuran

Kantin kejujuran adalah salah satu cara untuk menggalakkan pendidikan karakter yang saat ini sedang marak di Indonesia. Biasanya untuk mendidik karakter bangsa diadakan sosialisasi, kampanye, atau lainnya, dan kantin kejujuranlah yang paling mudah dan sering dijumpai oleh anak-anak sekolah yang di sekolahnya terdapat kantin kejujuran. Kantin kejujuran merupakan cara mendidik karakter yang bisa dikatakan baru tenar. Karena belum banyak sekolah yang menyediakan kantin kejujuran.
Dari namanya, sudah pasti sebuah kantin kejujuran mengajarkan untuk jujur. Sejak kecil, baik orang tua maupun guru pasti mengajarkan kepada anak-anaknya untuk tidak berbohong dan tidak mengambil sesuatu yang bukan haknya atau miliknya.
Anak-anak sekolah biasanya menggunakan uang mereka untuk membeli sesuatu seperti makanan, minuman, atau alat tulis. Karena kantin kejujuran berada di sekolah, maka anak pasti akan menjumpai kantin kejujuran setiap hari mereka bersekolah dan membeli makanan, minuman, ataupun alat tulis di kantin kejujuran tersebut. Meskipun anak yang membeli di kantin kejujuran jumlahnya lebih sedikit dari anak yang membeli di kantin biasa, tetapi  setidaknya, anak yang pernah membeli disana sudah dilatih untuk jujur.
Jika anak-anak zaman sekarang tidak berlaku jujur dalam hal keuangan, hal itu bisa disebut korupsi. Meskipun korupsi di kantin kejujuran merupakan korupsi yang tergolong kecil, tetapi jika kebiasaan itu tidak dihilangkan, maka akan membuat masa depan menjadi seorang koruptor. Dan semua tahu bahwa korupsi itu tidak baik.
Adanya kantin kejujuran di sekolah merupakan sarana yang baik untuk mendidik karakter seorang anak. Kantin kejujuran bisa melatih siswa untuk berlaku jujur. Kantin kejujuran akan sukses apabila siwa-siswi ikut berpartisipasi dengan cara membayar dan mengambil kembalian sendiri secara jujur. Selain siswa sendiri yang melakukan, orang tua maupun guru juga harus memberi pendidikan tentang keteladanan sejak dini.

Oleh : Maestra Martadinatyugra / 14

Sabtu, 28 Januari 2012

Penggunaan Ponsel Saat Jam Pelajaran

  Saat ini ponsel bukanlah barang yang asing bagi pelajar, terutama pelajar SMA. Penggunaan ponsel sudah seperti makanan pokok bagi mereka. Selain untuk berkomunikasi, ponsel juga memiliki segudang fungsi yang sangat memudahkan anak-anak jaman sekarang. Contohnya saja, internet di ponsel yang dapat diakses dengan mudahnya. Ponsel-ponsel dengan koneksi internet tersebut sekarang ini sudah bisa didapat dengan harga yang relatif murah.
   Internet merupakan dunia yang sangat luas. Di dalamnya bermacam-macam hal dapat kita temukan. Baik maupun buruk, bermanfaat atau tidak, semuanya ada di sana. Apalagi sekarang ini ponsel dengan koneksi internet sudah bertebaran dimana-mana yang berarti para pelajar lebih dimudahkan . Misalnya saja, para pelajar dapat menggunakan ponsel sebagai bahan tugas, tambahan materi dan sebagainya.
   Tidak hanya itu, aplikasi dalam ponsel juga cukup berguna seperti kamus, kalkulator, converter, dan lain-lain. Namun, cukup disayangkan para pelajar saat ini justru menyalahgunakan penggunaan ponsel pada saat yang tidak tepat, contohnya pada saat jam pelajaran berlangsung. Misalnya saja, mereka justru menggunakan ponsel untuk sms-an, browsing, membuka jejaring seperti Facebook dan Twitter, main game, dan sebagainya. Hal tersebut pasti akan membuyarkan konsentrasi mereka terhadap pelajaran yang dapat berimbas kepada kepribadian dan prestasi siswa.
   Faktor utama penggunaan ponsel saat pelajaran berlangsung mungkin karena murid-murid kurang bisa memfokuskan diri dalam pelajaran. Mereka mudah teralihkan, mudah bosan, mengantuk, kurang berkonsentrasi, dan lainnya. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan karena faktor guru yang mengajar dengan cara yang kurang menarik atau mungkin kurang bisa mengawasi murid-muridnya dengan baik.
   Jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa ponsel mempunyai dampak positif dan negatif. Semuanya itu tergantung terhadap cara murid-murid menyikapi penggunaannya.  Maka dari itu, baik murid maupun guru diharapkan bisa meningkatkan kesadaran diri. Sehingga kegiatan belajar mengajar dapat berjalan dengan lebih baik.

Nisa Nuraini H. (19)

Kamis, 26 Januari 2012

Kantin Kejujuran :)

Oleh: Devita Putri M.W (06)


Kantin merupakan salah satu tempat favorit bagi para pelajar untuk melepas penat setelah memeras otak di dalam kelas. Biasanya, kantin terdiri dari satu penjual dan satu pembeli. Penjual bertugas untuk melayani pembeli.
                Akan tetapi, sebuah kantin yang terdapat  di SMA N 1 Salatiga tidak seperti itu. Dikantin ini, anda  tidak akan menjumpai satu orang pun yang bertugas sebagai penjual. Maka dari itu, di kantin ini pembeli harus melayani dirinya sendiri. Kantin ini dinamakan kantin kejujuran.
                Kantin kejujuran ini memang baru saja di buka. Akan tetapi, kantin kejujuran ini mendapat tanggapan yang cukup bagus dari para siswa. Dikantin kejujuran ini para siswa dituntut untuk bersikap jujur saat membeli, karena di kantin ini para siswa harus melayani dirinya sendiri saat akan membeli barang, termasuk saat mengambil uang kembalian.
                Maka, dapat disimpulkan selain bermanfaat sebagai tempat melepas penat bagi para siswa, kantin kejujuran ini dapat juga digunakan sebagai media penyalur pendidikan karakter yang diberikan SMA N 1 Salatiga kepada para siswanya.
                Di dunia ini tidak ada sesuatu yang sempurna. Nah, termasuk kantin ini juga. Kantin kejujuran ini memiliki kekurangan. Misalnya saja ada siswa yang tidak bersikap jujur. Bukannya mendapat untung dan bermanfaat malah akan merugi dan merusak moral siswa. Siswa yang mengambil barang seenaknya saja tanpa membayar dikantin ini akan ketagihan untuk berperilaku seperti itu terus menerus.
                Akan tetapi, kantin ini akan berhasil membentuk karakter dan untung apabila para siswa berpartisipasi dengan baik, yaitu dengan bersikap jujur. Sayangnya belum banyak sekolah yang menggunakan kantin kejujuan semacam ini sebagai media penyalur pendidikan karakter.
               

Ponsel di Jam Pelajaran...


 Oleh: Fransiska Retno .K (09)

Bagi kalangan remaja, ponsel merupakan benda yang tak asing lagi. Bahkan, dengan perkembangan zaman yang sedemikian rupa ini, fungsinya juga semakin berkembang. Sehingga tidak hanya sekedar alat untuk berkomunikasi, seperti telepon dan SMS saja.


Fungsi ponsel yang semakin inovatif membuat kebanyakan pelajar memanfaatkannya untuk membantu proses pelajaran. Misalnya fasilitas internet, yang sangat berguna sebagai sumber bahan-bahan tugas.


Bukan hanya itu saja, ponsel juga menawarkan fasilitas lain yang tak kalah berguna. Seperti kalkulator, kamus, dan lain sebagainya. Namun penggunaannya terutama ketika proses kegiatan belajar mengajar perlu diawasi. Guna mengantisipasi apabila siswa menggunakannya untuk kepentingan yang lain.


Penyalahgunaan ponsel sepertinya tidak hanya terjadi di kalangan pelajar semata. Bahkan telah sering dijumpai bahwa guru juga tidak menggunakan ponsel untuk tujuan yang semestinya. Melainkan untuk kepentingan dirinya sendiri, yang sama sekali tidak ada sangkut-pautnya terhadap kegiatan belajar mengajar.


Yang menjadi keprihatinan kita bersama adalah ketika guru tidak mengajar muridnya, kemudian malah asyik mengotak-atik ponselnya. Ya, apalagi kalau bukan sms-an, atau bahkan BBM-an. Hal ini sangat melenceng dari tujuan guru, yakni mengajar dan mendidik. Jika gurunya saja seperti itu, bagaimana dengan siswanya?


Maka dari itu, sebaiknya siswa dan guru meningkatkan kesadaran diri masing-masing. Agar proses kegiatan belajar mengajar bisa berlangsung baik dan lancar. Guna masa depan yang lebih baik. Setuju? :D

Rabu, 25 Januari 2012

“UPAYA PENERAPAN PENDIDIKAN KARAKTER”

Sekarang ini di Indonesia sedang gencar-gencarnya bahkan marak-maraknya panupaya penerapan pendidikan karakter bangsa terutama di kalangan pelajar. Banyak kegiatan yang diselenggarakan untuk mewujudkan karakter bangsa tersebut. Bahkan melalui bidang apapun agar para pelajar Indonesia terlihat karakter bangsanya. Tujuan penerapan pendidikan karakter bangsa itu sendiri adalah untuk menciptakan pelajar (anak bangsa) menjadi penerus bangsa yang sukses. Tidak hanya kesuksesannya saja, tetapi karakter pun turut terbentuk.
            Penerapan pendidikan karakter dapat diterapkan kepada para pelajar melalui seminar pendidikan karakter maupun penyuluhan-penyuluhan oleh para guru atau pengajar. Para pelajar tidak hanya menerima teori-teorinya saja, tapi juga harus ada pelaksanaan atau perwujudan dari pendidikan karakter tersebut. Dapat diterapkan dalam kegiatan ekstrakulikuler maupun organisasi sekolah. Maka dari itu pelajar dapat berpartisipasi secara langsung.
            Salah satu penerapan pendidikan karakter bangsa yang banyak digunakan atau dilaksanakan sekolah-seolah di manapun yaitu dengan dibuatnya “Kantin Kejujuran”. Pada dasarnya Kantin Kejujuran adalah kantin yang dapat menumbuhkan sikap jujur pada setiap siswa yang jajan di kantin tersebut. Nilai kejujuran itu sendiri yang disebut karakter bangsa. Hanya saja kejujuran itu diwujudkan dengan cara para siswa mengambil sendiri makanan, minuman, atau barang yang akan dibeli dan membayar serta mengambil kembalian sendiri. Oleh karena itu tanpa adanya suatu pelayanan, nilai kemandirian pun dapat menjadi perwujudan karakter bangsa dari kantin kejujuran tersebut.
            Makanan maupun minuman yang dijual kantin tersebut adalah jajanan yang sehat dan higenis, sehingga jajanan tersebut lebih aman dikonsumsi daripada jajanan yang diperjualbelikan di luar sekolah. Sayangnya, yang membeli pasti mayoritas dari siswanya, jadi guru dan karyawan juga harus membeli jajanan di kantin tersebut sehingga guru pun dapat berpartisipasi dalam terciptanya pendidikan karakter.
            Ada beberapa pro dan kontra dengan dibuatnya kantin kejujuran tersebut, seperti yang telah dijabarkan di atas adalah “pro” dari adanya kantin kejujuran. Maka dari itu, kontranya sendiri timbul dari para siswa. Para siswa cenderung bosan dengan makanan yang diperjualbelikan di kantin kejujuran tersebut. Kemudian para siswa memilih jajan ke kantin biasa yang makanannya lebih bervariasi dan tidak membosankan. Akhirnya kantin kejujuran tersebut mungkin akan semakin merugi karena para peminat atau siswa yang jajan di kantin kejujuran tersebut semakin menurun.
            Oleh karena itu, dengan adanya kontra tersebut para guru yang berperan dalam dibuatnya kantin kejujuran tersebut harus lebih kreatif dan inovatif agar peminat dari kantin kejujuran tersebut tidak semakin menurun. Misalnya saja dengan survey langsung ke kantin biasa, apa saja yang sering dibeli para siswa sehingga dapat tersedia di kantin kejujuran.
            Dengan demikian mungkin saja anda dapat menggunakan altenatif ini dalam upaya pendidikan karakter dengan lebih efektif, sehingga karakter bangsa benar-benar terwujud di kalangan pelajar Indonesia demi terciptnya penerus bangsa yang sukses dan berkarakter baik pula.

Paragraf argumentasi ini dibuat oleh :
MONICA WINDITASARI / X-10 / 16