Tampilkan postingan dengan label Tugas dari Bu Uswatun. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tugas dari Bu Uswatun. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 Maret 2012

Pendidikan Karakter Melalui Kantin Kejujuran


Nilai pendidikan karakter mulai dilupakan oleh banyak orang. Kedisiplinan, kesopanan, kejujuran, tanggung jawab, kerapian, dan ketertiban sudah tidak diutamakan lagi. Dengan banyaknya orang yang tidak mengerti tentang nilai karakter, maka banyak pula orang yang akan merasa dirugikan dengan perilaku mereka yang tidak mengerti tentang nilai karakter tersebut. Rupanya saat ini kejujuran adalah barang yang sangat mahal. Untuk mengatasi hal tersebut, maka pemerintah menggencarkan pendidikan karakter pada banyak kalangan, salah satunya pada sekolah-sekolah.
 Faktanya, sekarang ini persentase orang yang tidak jujur lebih banyak daripada orang yang jujur. Dengan kreatifitas sekolah, banyak diantara mereka yang mengajarkan tentang nilai karakter pada siswa dengan cara mendirikan kantin kejujuran di sekolah, salah satunya pada sekolah kita, SMA Negeri 1 Salatiga. Belum lama ini SMA Negeri 1 Salatiga mendirikan kantin kejujuran yang menyediakan alat tulis, berbagai makanan ringan, dan bermacam-macam minuman dengan harga yang terjangkau bagi siswa.
Usaha sekolah dalam mengajarkan kejujuran pada setiap siswanya dengan mendirikan kantin kejujuran sangat tepat. Banyak siswa di uji kejujurannya. Pada dasarnya, para siswa yang sudah mulai mengerti tentang nilai karakter dan menerapkan kejujurannya tidak akan merasa dihantui oleh rasa bersalah karena mereka sudah bersikap jujur.
Sayangnya, masih banyak juga siswa yang tidak mempedulikan kejujuran. Mungkin bagi mereka kejujuran adalah hal yang tidak penting sehingga mereka belum bisa berpikir panjang tentang apa yang terjadi apabila mereka tidak berperilaku jujur. Dalam penerapannya di kantin kejujuran, mereka dengan senang mengambil barang yang mereka butuhkan tanpa membayarnya. Jadi, usaha sekolah dengan mendirikan kantin kejujuran bagi siswa yang tidak mengerti nilai karakter akan sia-sia saja.
Dengan demikian, adanya kantin kejujuran pada sekolah-sekolah belum efektif. Kantin kejujuran akan sangat bermanfaat bagi siswa yang sudah mulai mengerti nilai karakter karena mereka dapat melatih kejujurannya melalui kantin kejujuran. Akan tetapi, mereka yang belum mengerti nilai karakter terutama nilai kejujuran juga tidak akan pernah mengerti apa sebenarnya manfaat bersikap jujur. Oleh karena itu, sekolah harus mencari alternatif lain dalam mengajarkan nilai karakter terutama nilai kejujuran pada siswanya, terutama pada siswa yang belum mengerti tentang nilai karakter.

Vania Elysia / 27

Selasa, 13 Maret 2012

Sistem Poin


Kalau bicara tentang tata tertib, kita pasti teringat tentang sekolah. Sekolah memang identik dengan tata tertib. Tata tertib sangatlah penting untuk kehidupan kita. Dengan tata tertib kita bisa hidup dengan teratur, rapi, dan nyaman tentunya. Jika Anda seorang pelajar, tentunya setiap hari Anda akan berurusan dengan yang namanya tata tertib.
Tata tertib cukup bagus menurut saya, tetapi kadang kala tata tertib memang tidak sejalan dengan para siswa. Ada siswa yang menjunjung tinggi tata tertib di sekolahnya, tapi ada juga yang menghiraukan bahkan seperti tidak mengenal dengan yang namanya tata tertib. Sehingga mereka seolah-olah bersekolah tanpa aturan, seenak mereka sendiri. Inilah yang membuat pihak sekolah memutar otak untuk mencari solusi atas masalah tersebut.
Ada banyak alternatif cara yang digunakan oleh pihak sekolah, seperti dengan menyebar guru pengawas saat istirahat, dan sebagainya. Tak jarang juga sekolah yang menerapkan sistem poin untuk mengatasi ulah para siswa itu. Seperti yang ada di sekolah saya misalnya, para siswa yang melanggar tata tertib akan diganjar dengan poin yang akan terus diakumulasi yang jika sudah mencapai jumlah tertentu, siswa tersebut akan mendapat sanksi dari sekolah. Bahkan jika jumlah akumulasi poin mencapai batas maksimal yang ditetapkan oleh sekolah, bisa jadi siswa tersebut dikeluarkan dari sekolah.
Sistem poin ini cukup ampuh sebenarnya karena banyak juga sekolah yang menggunakan sistem ini untuk mengawasi siswa mereka. Namun, berhasil atau tidaknya sistem tersebut sangat bergantung terhadap mekanisme pelaksanaannya. Jadi belum tentu jika suatu sekolah menerapkan sistem poin, maka seluruh siswa akan mematuhi tata tertib, bahkan kalau tidak hati-hati sistem ini juga bisa menjadi senjata makan tuan bagi sekolah yang menerapkan.
Seperti yang ada di sekolah saya misalnya, saya merasa sistem poin yang diberlakukan kurang berdampak. Masih saja banyak siswa yang melanggar tata tertib yang sudah ditetapkan oleh pihak sekolah. Dalam hal rambut misalnya, siswa yang rambutnya sudah melebihi ketentuan tata tertib hanya diingatkan saja oleh guru, bahkan beberapa hari setelah itu, siswa tersebut masih belum juga mematuhi tata tertib. Lalu apa gunanya sistem poin yang diterapkan selama ini kalau setiap pelanggaran hanya diingatkan oleh guru?
Sistem poin akan berhasil apabila dijunjung seluruh warga sekolah. Sistem poin seharusnya menjadi tanggung jawab semua guru, bukan hanya guru bidang tertentu, sehingga para siswa tertib terhadap semua guru, bukan hanya kepada guru tertentu. Jika begitu, saya yakin tata tertib akan makin dihargai dan ditaati oleh seluruh siswa.


Stepanus Sinung W. J.
X10-25 

Kamis, 16 Februari 2012

Kantin Kejujuran, Pioner Pembentukan Karakter Bangsa

Kejujuran merupakan nilai yang wajib ada pada diri manusia. Pada zaman modern seperti ini, kejujuran mulai melemah, menurun bahkan lenyap. Tampak dari beberapa generasi muda yang sudah mulai mengambil jalan pintas dan tidak mengindahkan nilai kejujuran lagi. Maraknya korupsi, menurunnya solidarias antar SARA, dan timbulnya rasa egois menjadi suatu hal yang dapat membuktikan bahwa kejujuran sudah hilang dari dunia ini. Maka langkah apa yang dapat dilakukan untuk mengatasinya? Akhir – akhir ini sedang marak diadakanya pendidikan karakter oleh pemerintah yang bertujuan agar generasi muda mau menghargai dan menjunjung tinggi kejujuran sehingga tercipta kombinasi yang pas dan berkualitas. SMA Negeri 1 Salatiga sudah mulai menggalakkan sistem kantin kejujuran. Apakah sistem tersebut mampu dan efektif untuk membangun nilai karakter siswa?
Secara umum kantin kejujuran sama halnya dengan koperasi – koperasi sekolah yang lainnya. Namun, ada hal yang membuat mereka beda yakni sistemnya. Di koperasi kita dilayani oleh petugas ketika kita membeli sesuatu barang tetapi tidak bagi kantin kejujuran. Disana kita dapat mengambil dan membayar sendiri tanpa dilayani petugas satu pun. Mengapa kantin kejujuran menjadi alasan untuk membangun mental jujur? Apa manfaatnya?
Saat kita membeli barang yang kita butuhkan di kantin kejujuran, kita ditantang untuk berbuat jujur melalui barang yang kita ambil apakah sudah sesuai dengan harga yang ada, atau apakah kita akan mengambil tanpa membayar ? disinilah kejujuran dan mental kita diuji. Kepercayaan yang sekolah berikan melatih pula tentang kedisiplinan dan tanggung jawab. Melalui “kaju” yang berarti kantin kejujuran kita dibiasakan untuk tidak berhutang dan mendidik kita untuk mandiri dalam menentukan skala prioritas kebutuhan.
Semua cara di dunia ini pasti tak ada yang berjalan sesuai dengan rencana. Karena hampir seluruh siswa pada setiap harinya bertransaksi di kantin kejujuran membuat sulitnya mengawasi karakter siswa. Para guru pasti ingin  memantau dan mengamati gerak gerik setiap perubahan karakter anak didiknya. Namun, hal itu tidaklah mungkin karena mengingat begitu banyak siswa yang ada. Maka sistem kantin kejujuran tersebut perlu waktu yang tidaklah singkat untuk mengubah karakter siswa kearah baik. Perlu waktu beberapa bulan untuk bisa menarik kesimpulan berhasil atau tidakkah sistem ini mampu membangun karakter siswa.
Kantin kejujuran merupakan usaha yang dinilai unik tapi mampu membangun karakter secara efektif. Sebuah langkah awal yang pas untuk menciptakan generasi muda yang bermutu. Jika cara ini dinilai sekolah baik maka akan muncul cara – cara lain untuk melengkapinya. Misalnya dengan seminar atau lomba – lomba antar kelas yang dapat memupuk rasa kompak dan percaya diri antar siswanya sendiri. Kantin kejujuran menjadi pioner atau perintis dalam melahirkan bibit unggul yang jujur, disiplin, tanggung jawab dan mandiri. 

Angelita Dinda Arum Sari
X – 10 / 03

Rabu, 15 Februari 2012

Pemberlakuan Sistem Poin Terhadap Siswa yang Melanggar Peraturan

 
            Akhir-akhir ini semakin banyak siswa yang mulai melakukan tindakan indisipliner. Hal ini membuat siswa yang ingin tertib, serta sebagian masyarakat terganggu. Beberapa aktivitas yang dianggap tidak tertib dan mengganggu sebagian masyarakat sekolah diantaranya adalah siswa yang membolos pada jam pelajaran lalu pergi ke jalan dan mabuk. Hal itu tentunya sangat mengganggu aktivitas masyarakat dan warga sekolah. Hal-hal yang dianggap pelanggaran di sekolah adalah segala aktivitas yang dianggap tidak tertib dan mengganggu masyarakat dan warga sekolah. Maka dari itu, banyak sekolah yang memberlakukan sistem poin untuk membatasi aktivitas siswa yang tidak berkenan.  
            Sistem poin yang dimaksud adalah apabila ada siswa yang melanggar peraturan akan diberi poin. Apabila siswa tersebut mencapai poin sudah ditentukan oleh pihak sekolah, maka akan diberi sanksi-sanksi tertentu, sesuai dengan jumlah poin yang sudah dicapai oleh siswa itu. Tapi, akankah cara tersebut efektif ? Jawabannya adalah ya. Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa anak yang takut akan hukuman pasti akan berusaha untuk tidak mendapatkan hukuman. 
            Hal ini seharusnya mulai diterapkan di semua sekolah. Aktivitas dan kegiatan siswa perlu dibatasi untuk meminimalisir tingkat kenaikan tindakan indisipliner siswa. Pemberlakuan sistem poin ini perlu dilakukan sangat ketat, serta semua warga sekolah termasuk para siswa diwajibkan mengerti tentang pemberlakuan sistem poin yang dilakukan oleh sekolah tersebut. Tentu saja kegiatan ini perlu dukungan dan partisipasi semua pihak. Apabila tidak, tentunya pemberlakuan sistem poin terhadap siswa yang melakukan pelanggaran akan sia-sia.
             Setiap guru menjadi pemegang peran yang sangat penting dalam kegiatan ini, karena guru-lah yang melakukan pengamatan dan melakukan tindakan pencatatan poin kepada siswa yang melanggar peraturan sekolah. Sikap guru yang melakukan aktivitas tersebut diharapkan bertindak tegas dan tidak pandang bulu. Akan tetapi, ketika siswa tersebut ditinggal oleh guru, mungkin mereka melakukan tindakan pelanggaran. Agar tidak terjadi tindakan pelanggaran, dibutuhkan kerjasama dari siswa yang melihat temannya yang melakukan tindakan pelanggaran. 
            Selain hal-hal yang sudah dikemukakan tadi, juga diperlukan arahan dari pihak sekolah agar setiap siswa memahami peraturan yang diberlakukan oleh sekolah tersebut. Juga diperlukan bimbingan moral dan motivasi dari setiap guru yang mengajar. Faktor-faktor tersebut harus terjaga semua agar pemberlakuan sistem poin berjalan dengan lancar. Setelah itu, juga diperlukan evaluasi untuk mengurangi kelemahan sistem poin. 
 IRIANTO JUSTISILVAWAN
X-10
 12



Selasa, 07 Februari 2012

Kantin Kejujuran

Kantin kejujuran adalah salah satu cara untuk menggalakkan pendidikan karakter yang saat ini sedang marak di Indonesia. Biasanya untuk mendidik karakter bangsa diadakan sosialisasi, kampanye, atau lainnya, dan kantin kejujuranlah yang paling mudah dan sering dijumpai oleh anak-anak sekolah yang di sekolahnya terdapat kantin kejujuran. Kantin kejujuran merupakan cara mendidik karakter yang bisa dikatakan baru tenar. Karena belum banyak sekolah yang menyediakan kantin kejujuran.
Dari namanya, sudah pasti sebuah kantin kejujuran mengajarkan untuk jujur. Sejak kecil, baik orang tua maupun guru pasti mengajarkan kepada anak-anaknya untuk tidak berbohong dan tidak mengambil sesuatu yang bukan haknya atau miliknya.
Anak-anak sekolah biasanya menggunakan uang mereka untuk membeli sesuatu seperti makanan, minuman, atau alat tulis. Karena kantin kejujuran berada di sekolah, maka anak pasti akan menjumpai kantin kejujuran setiap hari mereka bersekolah dan membeli makanan, minuman, ataupun alat tulis di kantin kejujuran tersebut. Meskipun anak yang membeli di kantin kejujuran jumlahnya lebih sedikit dari anak yang membeli di kantin biasa, tetapi  setidaknya, anak yang pernah membeli disana sudah dilatih untuk jujur.
Jika anak-anak zaman sekarang tidak berlaku jujur dalam hal keuangan, hal itu bisa disebut korupsi. Meskipun korupsi di kantin kejujuran merupakan korupsi yang tergolong kecil, tetapi jika kebiasaan itu tidak dihilangkan, maka akan membuat masa depan menjadi seorang koruptor. Dan semua tahu bahwa korupsi itu tidak baik.
Adanya kantin kejujuran di sekolah merupakan sarana yang baik untuk mendidik karakter seorang anak. Kantin kejujuran bisa melatih siswa untuk berlaku jujur. Kantin kejujuran akan sukses apabila siwa-siswi ikut berpartisipasi dengan cara membayar dan mengambil kembalian sendiri secara jujur. Selain siswa sendiri yang melakukan, orang tua maupun guru juga harus memberi pendidikan tentang keteladanan sejak dini.

Oleh : Maestra Martadinatyugra / 14

Rabu, 25 Januari 2012

Penerapan Pendidikan Karakter Melalui Kantin Kejujuran

Indonesia memerlukan sumber daya manusia dalam jumlah dan mutu yang memadai sebagai pendukung utama dalam pembangunan. Maka dari itu, di Indonesia sedang gencar -gencarnya diadakan penyuluhan dan penerapan pendidikan karakter. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang.
            Pada praktiknya pendidika karakter di kalagan pelajar adalah dengan kantin kejujuran. Kantin kejujuran adalah salah satu cara utuk menerapkan pendidikan karakter. Di sini siswa harus bertindak jujur. Seperti yang ada di SMA N 1 Salatiga, baru baru ini SMA N 1 Salatiga membuka sebuah kantin kejujuran. Di mana semua jajanan dan uang di biarkan begitu saja. Siswa melayani dirinya sendiri. Dengan begitu siswa bisa berlatih jujur.
            Katin kejujuran memang cara yang efektif untuk menerapka pendidikan karakter di sekolah. Karakter bangsa yang tercermin dari kantin kejujuran antara lain jujur, bertanggung jawab dan madiri. Saat kita membeli barang barang di kantin kejujuran dengan cara yang sesuai yaitu jujur maka kita telah mendapatkan 2 keuntungan sekaligus. Keuntungan yang pertama adalah mendapat pahala karena kita telah berbuat jujur, bertanggung jawab dan mandiri. Keuntungan yang kedua yaitu kita telah menerapkan pendidikan karakter dalam diri kita yang artinya kita sudah menyumbangkan masa depan bangsa. Mungkin dengan begitu kita bisa meraih suksus di masa depan.
            Dengan adanya kantin kejujuran ini pasti semua siswa akan senang, termasuk siswa yang tidak jujur. Siswa yang  jujur pasti senang karena akan terus terlatih kejujurannya. Akan tetapi,  siswa yang tidak jujur juga senang, karena bisa mengambil apapun yang disuka tanpa harus membayar. Pada dasarnya, hal seperti itu tidaklah terpuji tetapi masih banyak saja yang melakukan hal itu . Mungkin di kemudian hari bisa saja menjadi koruptor karena hal kecil seperti ini. Maka dari itu, hal seperti itulah yang harus menjadi perhatian, karena pendidikan karakter belum tertanamkan.
            Bukti tersebut membenarkan bahwa di Indonesia masih banyak yang kurang berkarakter bahkan dikalangan pelajar. Dengan demikian, pendidikan harus lebih ditingkatkan lagi agar dapat menyiapkan penerus bangsa yang benar benar berkualitas dan dapat bersaing dikancah Internasional.

AISHA DIAN KUSUMA X-10/01

Jumat, 02 Desember 2011

Deskripsi Lapangan SMA Negeri 1 Salatiga

Kamis, 27 Oktober 2011
Pukul 12.20

      Lapangan SMA Negeri 1 Salatiga cukup luas. Saat ini, lapangan sedang direnovasi. Lapangan SMA Negeri 1 Salatiga sudah berumput, walaupun belum rata. Di sana juga masih dipasang banyak tali rafia, ada juga potongan-potongan bambu ditancapkan di sekelilingnya. Masih ada juga selang yang biasanya digunakan untuk menyirami rumput, masih tergeletak di sana.
       Di sekeliling lapangan kini terdapat lintasan lari dan taman kecil. Banyak bunga yang ditanam di sana. Lapangan SMA Negeri 1 Salatiga dikelilingi banyak bangunan. Di sebelah utara ada gedung kelas X dan 3 pohon jambu air, yang katanya, jambu air dari pohon itu rasanya sangat manis. Di sebelah selatan ada gedung kelas XII, dan ada pohon-pohon yang tidak ada daunnya. Di sebelah timur ada ruang guru, lab, TU, kurikulum, dan beberapa tempat utama di SMA Negeri 1 Salatiga. Sedangkan di sebelah barat lapangan terdapat gedung kelas XI dan beberapa kelas X.
          Suasana di lapangan ini sangat sepi,, tidak ada orang. Hanya ada banyak capung beterbangan di sana.

Elsa Narwastu Rosita
X-10 / 07

Rabu, 09 November 2011

Lapangan SMANSSA, Sumber Inspirasiku

Rerumputan yang hijau terhampar di sepanjang lapangan baru sekolahku. Suara riuh teriakan dari kami anak sepuluh sepuluh disalah satu sudut lapangan merupakan tanda mereka sedang sibuk dengan pengamatannya.  Lapangan berbentuk persegi panjang dan cukup luas disertai rumput yang baru tumbuh memenuhi pandanganku. Banyak daun berguguran mengotori tanah sekitar lapangan. Suasana disaat itu sepi hanya beberapa orang berlalu lalang. Tampak begitu banyak tali raffia biru membentang dari ujung lapangan. Ya, karena lapangan sekolahku masih dalam tahap pembangunan. 
 Di sebelah Timur terdapat tiang bendera yang tegak berdiri. Dan terdapat pula arena lintasan lari yang berwarna merah bata. Ada pula bak kotak pasir yang akan digunakan untuk olah raga. Di depan kelas X tumbuh tiga pohon jambu air yang pada saat itu sedang berbuah dan tak sedikit buah yang jatuh ke tanah dan akhirnya membusuk.  Tanaman – tanaman kecil menghiasai sisi – sisi lapangan dengan kekhasan warnanya. Ada sesuatu yang unik yang terdapat didepan kelas XII terdapat lebih dari satu pohon yang gundul atau tidak mempunyai daun tetapi anehnya pohon – pohon tersebut hidup. Sekolahku sangat menjaga kebersihan, maka tak terelakan lagi jika banyak tempat sampah ada dipinggir lapangan.
Suasana sangat syahdu dan indah karena banyak capung dan kupu – kupu beterbangan diudara. Sayangnya tampak banyak kerikil menumpuk didepan kelas X8 mengurangi indahnya pemandangan. Selang putih besar, mesin dan “angkringan” juga memenuhi lapangan. Tampak pompa air yang akan digunakan untuk menyirami rumput supaya tidak kering.
            Tiba – tiba cuaca hari itu mendadak menjadi sangat cerah. Sambil melirik kearah arlojiku yang sudah menunjukkan sekitar pukul setengah dua siang aku menyudahi pengamatanku. Menunggu bel berbunyi aku memutuskan untuk bercanda ria dengan teman – temanku. Tak lama kemudian bel pun berbunyi kami berdoa bersama dan akhirnya pulang.

Angelita Dinda A. S
X – 10 / 03

Deskripsi

LAPANGAN BARU SMA N 1 SALATIGA
Kamis 27 Oktober 2011, saya dan teman-teman saya mendapat tugas dari Bu Uswatun untuk mendeskripsikan lapangan SMA N 1 Salatiga. Ketika itu tepat pukul 13.10 WIB, kami keluar dari kelas menuju ke depan kelas X-8 untuk melakukan pengamatan terhadap lapangan SMA N 1 Salatiga. Sambil bergegas membawa tas, saya langsung mengamati kondisi lapangan SMAN N 1 Salatiga. SMA N 1 Salatiga sedang mengerjakan lapangan baru yang tepat berada ditengah-tengah SMA N 1 Salatiga.   
            Ketika tiba di depan kelas X-8, pandangan mata saya tertuju ke arah lapangan. Lapangan baru milik SMA N 1 Salatiga sedang dalam 80% tahap perbaikan. Lapangan ini cukup luas, cukup untuk menampung semua keluarga besar SMA N 1 Salatiga. Lapangan ini berbentuk seperti oval. Lalu saya mengalihkan pandangan saya ke pinggir lapangan. Terdapat beberapa pohon yang menghiasi pinggir lapangan.
            Diantaranya adalah pohon jambu dan pohon mahoni. Namun yang paling menarik perhatian saya adalah pohon jambu, karena pohon jambu tersebut sedang berbuah, serta ada beberapa buah yang jatuh di dekat lapangan. Lalu saya mencoba mengamati lapangan lagi. Di lapangan, rumput sudah mulai tumbuh. Lalu terdapat tali rafia yang membentang membagi-bagi lapangan. Juga ada beberapa patok kayu yang menjadi pengikat tali rafia tersebut.
            Lalu, saya mengalihkan pandangan saya ke arah barat lapangan. Disanan terdapat sesuatu yang tinggi. Ya betul, itu adalah tiang bendera SMA N 1 Salatiga, yang sering digunakan untuk upacara. Tiang tersebut merupakan sumbangan dari alumni SMA N 1 Salatiga angkatan 1979.Sekitar pukul 13.30 WIB, ada seseorang lelaki paruh baya yang melewati pinggir lapangan. Dia adalah satpam SMA N 1 Salatiga.
            Di pinggir daerah timur, terdapat selang dan pompa air yang tidak tertata rapi. Lapangan ini juga dikelilingi jalan yang berpaving dan juga terdapat lintasan lari. Lalu ada beberapa orang yang sedang mencabuti rumput. Hal ini sangat diperlukan untuk menghindari rumput-rumput liar yang tumbuh di lapangan. Lalu pada daerah selatan lapangan, ada beberapa kakak kelas kami yang sedang menikmati indahnya lapangan yang sedang dalam tahap perbaikan ini pinggir kelas mereka.
             Jam menunjukkan pukul 13.40 WIB, saya beserta teman-teman X-10 dan Bu Uswatun mengakhiri observasi kali ini dengan doa. Setelah selesai berdoa, saya bersama teman-teman bercanda ria menunggu bel berbunyi. Ketika bel berbunyi, saya dan teman-teman pulang dengan ceria.
                        IRIANTO JUSTISILVAWAN
X-10
12

Deskripsi


LAPANGAN UTAMA SMA NEGERI 1 SALATIGA
            Begitu memasuki kawasan kampus SMA Negeri 1 Salatiga, suara gemericik air yang berasal dari pancuran air menyambutku. Aku mulai melangkahkan kaki ke lapangan utama yang terletak di tengah-tengah kampus. Lapangan ini cukup luas, kurang lebih berukuran 50 kali 10 meter persegi. Setelah diperbarui, memang luas lapangan ini sedikit berkurang dibandingkan lapangan sebelumnya. Kurang lebih proyek ini sudah berjalan 85 persen.
            Rumput hias yang ditanam di sekitar lapangan belum sepenuhnya jadi. Begitu pula tanaman hias yang berada di sebelah utara dan barat lapangan. Dengan menanam banyak tanaman hias dan rumput di sekitar lapangan diharapkan SMA Negeri 1 Salatiga dapat terlihat lebih ‘hijau’ dan ramah lingkungan.
            Tiang bendera merah putih kokoh berdiri tegak di sebelah timur lapangan. Tiang bendera yang telah diperbarui ini merupakan sumbangan dari alumni SMA Negeri 1 Salatiga tahun 1976. Meskipun tiang bendera sudah terpasang namun upacara bendera belum dilaksanakan karena memang pembangunan lapangan ini belum 100 persen selesai.
            Tepat di tengah lapangan terlihat pekerja yang sedang jongkok, ia sedang mencabuti rumput-rumput yang tidak diinginkan tumbuh. Ada pula 2 orang pekerja yang sedang menyirami rumput. Memang, untuk menghasilkan rumput yang baik, perawatannya harus baik pula, karena lapangan ini adalah jantung SMA Negeri 1 Salatiga.
            Di sisi kanan dan kiri lapangan terlihat beberapa murid kelas XII yang sedang mengerjakan tugas sembari menikmati hembusan angin sepoi-sepoi. Memang, di siang hari pinggir lapangan adalah tempat favorit murid-murid untuk mengerjakan tugas atau sekedar menikmati keindahan lapangan.
            Di sekeliling lapangan terdapat lintasan lari dan jalan berpaving. Tumbuh pula pohon-pohon yang rimbun. Pohon jambu, pohon palem, mahoni, dan lain-lain.
            Sinar matahari terasa makin membakar kulit. Kulayangkan pandanganku ke jam tanganku, waktu menunjukkan pukul 1 siang. Aku merasa sudah saatnya aku pulang. Cepat-cepat aku melangkahkan kaki keluar kampus sembari menyapa teman-teman dan guru-guru yang aku temui di perjalanan.
                                                            HAPSARA ADIWENA, X-10 / 11

Kamis, 03 November 2011

Deskripsi


LAPANGAN SMAN 1 SALATIGA

        Beginilah lapangan sekolahku. Aku dan teman-teman sekelaskuku mengamati keindahan lapangan dari ujung utara lapangan. Lapangan yang kondisinya dalam proses renofasi. Lapangan yang lumayan luas, dengan luas kira-kira sepuluh kali tujuh belas meter persegi. Seperempat dari lapangan tersebut di sekitar ujungnya sudah dipafing, dibuat untuk lintasan jalan. Sedangkan bagian inti lapangan dibuat berumput. Proses penanaman pun sudah mulai dilaksanakan. Penanaman rumput tersebut diatur dengan posisi penanamannya  menggunakan tali rafia berwarna biru dan hitam
        Maklumlah kondisi lapangan sedang dalam proses renofasi, banyak benda-benda maupun material yang menunjang proses renofasi tersebut tergeletak di sekitar lapangan. Selang-selang air berwarna hijau berceceran dilapangan. Grobak pasir berwarna merah yang dibiarkan tergeletak di bagian barat daya lapangan. Ada juga 4 buah alat pel yang juga tergeletak di bagian utara lapangan.
         Kuamati keindahan lapangan sekolahku. Banyak pepohonan yang tumbuh di sekitar pinggir lapangan. Daun-daun berguguran dari berbagai macam pohon yang tumbuh disana. Di dagian utara lapangan, ada tiga buah pohon jambu yang tumbuh. Banyak buah jambu yang jatuh secara alami tercecer ditanah dari pohon induknya. Sedangkan di bagian selatan lapangan, terdapat satu pohon jambu hijau yang tumbuh. Indahnya lapangan, juga terlengkapi dengan tumbuhnya pohon berbunga pink yang tumbuh lebat di bagian barat laut lapangan.
        Kulihat awan begitu muram pertanda cuaca sedang mendung. Banyak capung yang berterbangan kesana kemari yang sepertinya para capung tersebut menikmati pula keindahan akan lapangan sekolahku. Ku mulai alihkan pandanganku tepat ke arah bagian selatan lapangan. Tiang bendera tegak berdiri menantang disana, kira-kira tingginya sekitar tujuh meter.
        Kumulai melihat jam tangan yang terpasang di bagian kiri tanganku, tertunjuk pukul 13.40.. Guru bahasa Indonesia menyuruh kami berkemas-kemas. Ketua kelas memimpin doa sesuai agama masing-masing. Bel pulang pun berbunyi, pertanda kegiatan belajar mengajar pun berakhir. 


Gildafania X-10/10