Sabtu, 04 Februari 2012

Ponsel

“Ponsel.!” Istilah ponsel merupakan hal yang biasa di era modern ini. Misalnya saja di kalangan remaja, “HP ku, jiwa ku” mungkin begitu pengakuan beberapa remaja yang sangat cinta dengan ponsel. Memang, di jaman ini siapa yang tidak butuh ponsel? Mulai dari anak kecil hingga yang dewasa pun sudah melekat dengan benda kecil ini, dengan berbagai fasilitas yang ditawarkan, ponsel membuat setiap pengguna nya merasa nyaman.
                Ponsel, atau yang biasa disebut dengan telepon genggam, pertama kali dibuat oleh Martin Cooper pada tahun 1973, dengan tujuan memudahkan komunikasi antar pengguna telepon genggam. Awalnya fungsi ponsel sama dengan telepon biasa, hanya saja bentuknya yang lebih kecil hingga dapat dibawa kemana saja dan juga tidak memerlukan kabel jaringan telepon, tetapi seiring berjalannya waktu, ponsel semakin berkembang dengan adanya berbagai fasilitas-fasilitas yang disediakan dalam benda kecil tersebut, selain digunakan untuk menerima panggilan, terdapat fasilitas lainnya seperti : SMS, MMS, MP3, Radio, dan ada juga fasilitas yang lain tergantung dengan kecanggihan masing masing ponsel.
                Di kalangan remaja ponsel sangatlah bermanfaat, terlebih di dalam komunikasi antar teman, ponsel memberikan kemudahan dalam berkomunikasi antar penggunanya. Misalnya saja dalam hal menanyakan tugas dari guru, bagi yang tempat tinggal jauh, pasti enggan datang ke rumah teman hanya untuk menanyakan tugas dari guru, dengan ponsel, kita dapat menanyakan tugas ke teman hanya dalam hitungan menit. Dengan ponsel juga, kita dapat menambah wawasan kita, asal ada fasilitas internet, kita bisa menjelajah dunia maya. Dengan internet pula kita bisa mendapat informasi dari dunia luar sana.
                Tapi tak semua fasilitas ponsel memiliki efek positif bagi lingkungan sekitarnya. Di kalangan remaja misalnya, banyak remaja yang iseng dengan cara menakuti masyarakat, lewat teror misalnya, banyak orang mengaku ditelepon orang yang tidak mereka kenali dan memberi informasi rumahnya akan dibom. Saat tes juga, kasus contek mencontek para siswa juga makin marak, terlebih lagi menggunakan fasilitas ponsel, mencontek jadi lebih mudah. Di dalam pelajaran juga tak jarang terlihat siswa sedang asyik berkirim pesan yang pastinya sangatlah mengganggu pelajaran . Tapi mungkin itu demi mengatasi kejenuhan mereka dalam pelajaran.
                Jadi begitulah, ponsel memiliki banyak manfaat baik manfaat positif maupun manfaat negatif. Kita harus memanfaatkannya sebaik mungkin. Ambil baiknya dan buang negatifnya. 

Yohanes Dinar S.A. X-10 / 30

Pemberlakuan Poin dalam Tata Tertib Sekolah

                 Saat ini sudah banyak sekolah menggunakan sistem poin , terutama di kota besar , termasuk SMA Negeri 1 Salatiga , sekolah kita ini . Sudah banyak korban karena terkena dampak dari sistem poin ini . Bukannya poin plus , malahan poin negatif . Tentu saja terdapat pro dan kontra mengenai hal ini .
                Kriteria siswa yang mendapat poin ini mulai dari yang terlambat sekolah , memakai pakaian yang kurang sopan , memakai narkoba , sampai menghamili atau dihamili . Bahkan sampai hal yang dianggap siswa itu ringan , seperti menceburkan teman ke dalam kolam sekolah pun mendapat poin .
                Pelanggaran yang mendapat poin dapat dikategorikan ke dalam beberapa tingkatan . Mulai dari tingkat yang ringan , biasanya hanya ditegur . Dilanjutkan dengan tingkat sedang , siswa akan diberi peringatan yang cukup keras , mungkin orang tua pun dipanggil ke sekolah . Dan untuk tingkat berat , tidak jarang juga siswa langsung dikeluarkan dari sekolah . Itu sekilas tentang sistem poin yang umum dilaksanakan diberbagai sekolah .
                Dalam praktiknya , tidak semua peraturan yang berlaku dapat dilaksanakan dengan baik . Seperti contohnya , seorang siswa datang terlambat , bisa saja siswa itu terlambat tanpa hal yang disadari sebelumnya . Misalnya karena ban bocor , jadi siswa itu harus berjalan kaki , dan masih banyak hal lainnya . Apakah siswa tersebut layak untuk diberi poin ? Meskipun banyak siswa yang berbohong dengan beralasan seperti itu . Maka dari itu , semuanya dimulai dari kesadaran siswa sendiri .
                Sistem poin juga dapat dimanfaatkan untuk mempertegas suatu peraturan . Misalnya peraturan kecil , yang dulu dianggap sepele oleh siswa dan tidak jarang siswa melanggarnya , yaitu dilarang menginjak rumput di lapangan yang sedang dibuat . Mungkin dengan memberlakukan peraturan setiap siswa bila menginjak rumput lapangan akan mendapatkan akumulasi satu poin . Itu akan membuat siswa berpikir dua kali untuk melakukannya .
                Ada juga sisi negatif dari sistem poin ini . Hal ini dapat mendorong siswa untuk melakukan pelanggaran . Seperti siswa yang sengaja untuk dating ke sekolah terlambat , dia tentu memperhitungkan poin yang akan didapatkannya .  Misalnya , setiap terlambat akan mendapat lima poin dan batas pelanggaran ringan jika mencapai lima puluh poin , maka dia mempunyai kesempatan untuk dating terlambat sepuluh kali .
                Maka dari itu , sistem poin ini selain menimbulkan pro dan kontra akan menimbulkan akibat positif dan negatif . Itu semua tergantung dari pengelolaannya di sekolah masing – masing. 

Dany Kristianto
05 / X-10

Senin, 30 Januari 2012

Penggunaan Ponsel pada Jam pelajaran, Baik atau Buruk?



Penggunaan Ponsel pada Jam Pelajaran, Baik atau Buruk?

Remaja saat ini tidak pernah lepas dari ponsel mereka, kemanapun dan dimanapun mereka berada, mereka selalu bersama ponsel. Mungkin bisa dibilang mereka mengalami kecanduan pada ponsel. Bukan. Bukan ponsel, melainkan pada program yang ada pada ponsel mereka."Semakin canggih posel yang kau miliki saat ini, maka kamu terlihat semakin gaul". Itulah semboyan pergaulan remaja saat ini. Tak heran remaja selalu bersama ponsel mereka kemanapun mereka pergi, termasuk ke sekolah. Semua itu mereka lakukan demi tingginya pangkat mereka dalam pergaulan, bahkan fungsi ponsel sebagai alat komunikasi pun telah mereka acuhkan.
Seperti yang telah saya katakan, sekolah menjadi salah satu tempat bagi remaja untuk memamerkan harta kekayaannya, ponsel canggih contohnya. Padahal sudah tampak di tata tertib sekolah, bahwa siswa dilarang membawa ponsel.
Mengapa pihak sekolah melarang siswanya membawa ponsel ke sekolah? Alasan pertama, karena pihak sekolah tidak ingin siswanya terganggu oleh ponsel yang mereka bawa,contohnya  mereka “sms-an”  ketika KBM berlangsung.
Kedua, karena sekolah tidak menghendaki terjadinya diskriminasi antara si miskin dan si kaya. Maksudnya, di beberapa sekolah pasti berlaku hukum : “sekolah sebagai ajang gaul”. Jadi ketika si kaya memamerkan ponsel canggihnya pada (maaf) si miskin dan semua anak-anak di sekolah tentunya, dan si miskin tidak mampu memiliki ponsel seperti si kaya, maka si miskin akan merasa terkucilkan karena banyak anak di sekolah lebih memilih berteman dengan si kaya.
Di sisi lain, penggunaan ponsel pada jam pelajaran juga mampu dimanfaatkan sebagai media pembelajaran. Contohnya, beberapa hari yang lalu guru bahasa indonesia saya menyuruh kami membawa ponsel untuk bahan pembelajaran. Disana, guru kami menyuruh lima belas siswa untuk maju ke depan. Mereka akan mengirim penggalan-penggalan puisi kepada temen sebangku mereka, yang nantinya akan disusun menjadi sebuah puisi. Dengan begitu, pelajaran tersebut tidak terasa “absurd” melainkan berubah menjadi “fun learning”. Hal tersebut sangat diperlukan untuk menumbuhkan minat siswa pada sebuah mata pelajaran yang mereka anggap akan jadi mata pelajaran yang membosankan.
Jadi, penggunaan ponsel pada jam sekolah punya dua sisi. Sisi positif dan sisi negatif. Tringgal bagaimana pihak sekolah menyikapi sisi positif penggunaan ponsel pada jam pelajaran dan pihak siswa bisa menggunakan ponsel secara bijaksana.
Rindang Maulidia

X-10/23

Sabtu, 28 Januari 2012

Penggunaan Ponsel Saat Jam Pelajaran

  Saat ini ponsel bukanlah barang yang asing bagi pelajar, terutama pelajar SMA. Penggunaan ponsel sudah seperti makanan pokok bagi mereka. Selain untuk berkomunikasi, ponsel juga memiliki segudang fungsi yang sangat memudahkan anak-anak jaman sekarang. Contohnya saja, internet di ponsel yang dapat diakses dengan mudahnya. Ponsel-ponsel dengan koneksi internet tersebut sekarang ini sudah bisa didapat dengan harga yang relatif murah.
   Internet merupakan dunia yang sangat luas. Di dalamnya bermacam-macam hal dapat kita temukan. Baik maupun buruk, bermanfaat atau tidak, semuanya ada di sana. Apalagi sekarang ini ponsel dengan koneksi internet sudah bertebaran dimana-mana yang berarti para pelajar lebih dimudahkan . Misalnya saja, para pelajar dapat menggunakan ponsel sebagai bahan tugas, tambahan materi dan sebagainya.
   Tidak hanya itu, aplikasi dalam ponsel juga cukup berguna seperti kamus, kalkulator, converter, dan lain-lain. Namun, cukup disayangkan para pelajar saat ini justru menyalahgunakan penggunaan ponsel pada saat yang tidak tepat, contohnya pada saat jam pelajaran berlangsung. Misalnya saja, mereka justru menggunakan ponsel untuk sms-an, browsing, membuka jejaring seperti Facebook dan Twitter, main game, dan sebagainya. Hal tersebut pasti akan membuyarkan konsentrasi mereka terhadap pelajaran yang dapat berimbas kepada kepribadian dan prestasi siswa.
   Faktor utama penggunaan ponsel saat pelajaran berlangsung mungkin karena murid-murid kurang bisa memfokuskan diri dalam pelajaran. Mereka mudah teralihkan, mudah bosan, mengantuk, kurang berkonsentrasi, dan lainnya. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan karena faktor guru yang mengajar dengan cara yang kurang menarik atau mungkin kurang bisa mengawasi murid-muridnya dengan baik.
   Jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa ponsel mempunyai dampak positif dan negatif. Semuanya itu tergantung terhadap cara murid-murid menyikapi penggunaannya.  Maka dari itu, baik murid maupun guru diharapkan bisa meningkatkan kesadaran diri. Sehingga kegiatan belajar mengajar dapat berjalan dengan lebih baik.

Nisa Nuraini H. (19)

Kamis, 26 Januari 2012

Kantin Kejujuran :)

Oleh: Devita Putri M.W (06)


Kantin merupakan salah satu tempat favorit bagi para pelajar untuk melepas penat setelah memeras otak di dalam kelas. Biasanya, kantin terdiri dari satu penjual dan satu pembeli. Penjual bertugas untuk melayani pembeli.
                Akan tetapi, sebuah kantin yang terdapat  di SMA N 1 Salatiga tidak seperti itu. Dikantin ini, anda  tidak akan menjumpai satu orang pun yang bertugas sebagai penjual. Maka dari itu, di kantin ini pembeli harus melayani dirinya sendiri. Kantin ini dinamakan kantin kejujuran.
                Kantin kejujuran ini memang baru saja di buka. Akan tetapi, kantin kejujuran ini mendapat tanggapan yang cukup bagus dari para siswa. Dikantin kejujuran ini para siswa dituntut untuk bersikap jujur saat membeli, karena di kantin ini para siswa harus melayani dirinya sendiri saat akan membeli barang, termasuk saat mengambil uang kembalian.
                Maka, dapat disimpulkan selain bermanfaat sebagai tempat melepas penat bagi para siswa, kantin kejujuran ini dapat juga digunakan sebagai media penyalur pendidikan karakter yang diberikan SMA N 1 Salatiga kepada para siswanya.
                Di dunia ini tidak ada sesuatu yang sempurna. Nah, termasuk kantin ini juga. Kantin kejujuran ini memiliki kekurangan. Misalnya saja ada siswa yang tidak bersikap jujur. Bukannya mendapat untung dan bermanfaat malah akan merugi dan merusak moral siswa. Siswa yang mengambil barang seenaknya saja tanpa membayar dikantin ini akan ketagihan untuk berperilaku seperti itu terus menerus.
                Akan tetapi, kantin ini akan berhasil membentuk karakter dan untung apabila para siswa berpartisipasi dengan baik, yaitu dengan bersikap jujur. Sayangnya belum banyak sekolah yang menggunakan kantin kejujuan semacam ini sebagai media penyalur pendidikan karakter.
               

Ponsel di Jam Pelajaran...


 Oleh: Fransiska Retno .K (09)

Bagi kalangan remaja, ponsel merupakan benda yang tak asing lagi. Bahkan, dengan perkembangan zaman yang sedemikian rupa ini, fungsinya juga semakin berkembang. Sehingga tidak hanya sekedar alat untuk berkomunikasi, seperti telepon dan SMS saja.


Fungsi ponsel yang semakin inovatif membuat kebanyakan pelajar memanfaatkannya untuk membantu proses pelajaran. Misalnya fasilitas internet, yang sangat berguna sebagai sumber bahan-bahan tugas.


Bukan hanya itu saja, ponsel juga menawarkan fasilitas lain yang tak kalah berguna. Seperti kalkulator, kamus, dan lain sebagainya. Namun penggunaannya terutama ketika proses kegiatan belajar mengajar perlu diawasi. Guna mengantisipasi apabila siswa menggunakannya untuk kepentingan yang lain.


Penyalahgunaan ponsel sepertinya tidak hanya terjadi di kalangan pelajar semata. Bahkan telah sering dijumpai bahwa guru juga tidak menggunakan ponsel untuk tujuan yang semestinya. Melainkan untuk kepentingan dirinya sendiri, yang sama sekali tidak ada sangkut-pautnya terhadap kegiatan belajar mengajar.


Yang menjadi keprihatinan kita bersama adalah ketika guru tidak mengajar muridnya, kemudian malah asyik mengotak-atik ponselnya. Ya, apalagi kalau bukan sms-an, atau bahkan BBM-an. Hal ini sangat melenceng dari tujuan guru, yakni mengajar dan mendidik. Jika gurunya saja seperti itu, bagaimana dengan siswanya?


Maka dari itu, sebaiknya siswa dan guru meningkatkan kesadaran diri masing-masing. Agar proses kegiatan belajar mengajar bisa berlangsung baik dan lancar. Guna masa depan yang lebih baik. Setuju? :D

Kantin Kejujuran dalam Pendidikan Karakter

                     Saat ini disinyalir nilai-nilai karakter generasi muda bangsa Indonesia mengalami penurunan yang sangat drastis. Tercermin dengan rasa nasionalisme yang semakin menurun, nilai moral yang hampir tidak terlihat lagi, menurunnya rasa solidaritas dan timbulnya rasa individualisme, dan banyaknya pelanggaran-pelanggaran hukum yang dilakukan siswa.Oleh karena itu saat ini sistem pendidikan bangsa Indonesia juga berfokus pada bagaimana upaya membangun karakter generasi muda yang berkualitas. Berbagai langkah mulai dilakukan untuk membangun nilai karakter, salah satunya yang paling banyak kita lihat adalah munculnya kantin kejujuran di sekolah-sekolah. Apakah hal ini cukup efektif untuk membangun nilai-nilai karakter ?
                Kantin kejujuran sebenarnya seperti sebuah koperasi sekolah pada umumnya dimana tersedia berbagai kebutuhan siswa pada umumnya. Namun bila dikoperasi sekolah kita akan dilayani ketika kita berada di koperasi di koperasi tersebut, sedangkan bila di kantin kejujuran tidak seorang pun akan melayani kita melainkan kita sendirilah yang harus melayani diri kita sendiri mulai dari memilih barang hingga membayar.
                Salah satu alasan mengapa kantin kejujuran menjadi salah satu cara untuk membangun karakter adalah  karena disana dapat tercermin banyak nilai-nilai karakter. Kita sebagai siswa bisa melatih kejujuran kita melalui barang yang kita ambil apakah sesuai dengan nilai nominal yang kita bayar, apakah kita akan mencuri uang yang atau barang yang ada di kantin kejujuran karena tidak ada tempat khusus yang menjadi tempat penyimpanan juga tidak ada yang menjaganya. Tanggung jawab kita juga dilatih dimana kita sebagai siswa bisa memegang kepercayaan yang sekolah berikan untuk ikut mengelola kantin kejujuran dengan menunjukkan bukti kantin kejujuran dapat terus beroperasi. Kerapian kita dapat terlihat ketika kita mengambil barang ada kalanya kita akan menaruhnya di tempat yang lain atau tidak ditempat yang semula. Di kantin kejujuran juga dapat tercermin kedisiplinan kita dengan kebiasaan kita yang tidak suka berhutang. Kemandirian kita juga akan tercermin dari bagaimana cara kita memilih barang yang benar-benar kita butuhkan.
                Akan tetapi dalam praktek yang sebenarnya akan cukup sulit mengetahui mana yang sudah memiliki karakter yang baik atau belum. Karena di dalam kantin kejujuran kita hanya dapat melihat hasilnya secara umum karena tidak hanya beberapa siswa saja yang ikut bertransaksi di kantin kejujuran melainkan seluruh siswa dalam sekolah tersebut. Akibatnya hasil yang kita peroleh tidak mengacu pada satu individu secara signifikan, sehingga akan menyulitkan bila ingin memperbaiki karakter seorang individu saja. Padahal untuk hasil yang kita harapkan tidak hanya banyak siswa saja yang memiliki karakter yang baik melainkan seluruh siswa memiliki karakter yang baik. Supaya dapat menjadi generasi penerus bangsa yang baik. Untuk memperoleh hasilnya juga membutuhkan waktu yang cukup lama ( selama beberapa periode) tidak bisa dalam waktu yang singkat.
                Kantin kejujuran merupakan langkah awal dalam pendidikan karakter dimana siswa dapat menunjukkan nilai karakter yang sudah ia miliki dalam kehidupan sehari-harinya. Setelah diperoleh bukti yang nyata dari nilai karakter sebuah sekolah, pihak sekolah sebaiknya melakukan langkah untuk menindak lanjuti hasil tersebut. Seperti bila ditemukan hasil yang kurang memuaskan pihak sekolah bisa mengadakan kegiatan yang lebih membangun nilai karakter siswa, contohnya dengan mengadakan seminar pendidikan karakter maupun mengundang pihak terkait untuk membantu memperbaiki niai karakter sekolah tersebut. Bila ditemukan hasil yang memuaskan pihak sekolah bisa memperluas kantin kejujuran maupun melakukan kegiatan yang dapat membuat siswa menunjukkan nilai kepribadiannya yang baik. Kantin kejujuran adalah sebuah awal yang baik untuk melihat bagaimana nilai karakter sebuah sekolah, tetapi tidak untuk mencari tahu nilai kepribadian seorang individu. Kantin kejujuran juga kurang efektif dalam mendidik karakter siswa karena yang terlihat disana adalah karakter siswa yang sudah mereka miliki selama ini sehingga akan cukup sulit untuk merubahnya. Sehingga kantin kejujuran hanya akan berjalan dengan efektif untuk membangun nilai karakter bila di dukung dengan adanya program lain yang sifatnya langsung memperbaiki karakter siswa.

                                                                                                                            Alfapetra Meisky Astawan
                                                                                                                                                X-10/ 02