Senin, 23 Januari 2012

Ponsel di Jam Pelajaran

            Di era globalisasi ini siapa pelajar yang tidak mempunyai ponsel? Hampir semua pelajar mempunyai ponsel, bahkan siswa SD pun sudah ada yang dibelikan ponsel oleh orang tua mereka masing-masing. Yah, inilah dunia, semakin lama semakin berkembang.
            Namun, terkadang para pelajar salah menggunakannya. Mereka tidak menggunakannya pada waktu yang tepat, bahkan mereka menggunakannya pada saat jam pelajaran. Sebenarnya menggunakan ponsel pada saat jam pelajaran tidak masalah, hanya saja tergantung pada penggunaannya. Jika mereka menggunakan HP untuk browsing mencari materi-materi tentang pelajaran dan tentunya dengan mendapatkan izin dari guru, justru itu baik, tetapi jika digunakan untuk saling mengirim SMS, membuka jejaring sosial, dan kegiatan lain yang tidak berhubungan dengan pelajaran, itu akan mengganggu konsentrasi mereka terhadap pelajaran, bahkan tidak sedikit juga siswa yang menggunakan ponsel untuk browsing dan bertanya dengan teman ketika sedang ulangan.
            Sebenarnya ada banyak faktor yang menyebabkan mereka menggunakan ponsel dengan kurang tepat dan pada waktu yang tidak tepat. Faktor utamanya adalah guru dan pelajaran yang membosankan. Mereka menjadikan ponsel sebagai pelampiasan rasa bosan mereka. Banyak siswa yang membuka jejaring sosial seperti Facebook kemudian meng-update status tentang pelajaran atau guru yang bersangkutan, misalnya “ih... gurunya malesin”. Saran bagi para guru, seharusnya mereka mengajar para siswa dengan kreatif, sehingga pelajar tidak merasa bosan. Para guru juga harus bertindak tegas terhadap para siswa yang menggunakan ponsel tidak tepat pada waktunya.
            Faktor lainnya berasal dari dalam diri mereka, mereka tidak bersemangat dalam mengikuti pelajaran, mungkin karena pada dasarnya mereka memang tidak menyukai pelajaran tersebut, sehingga mereka menjadikan ponsel sebagai alat pelampiasan. Terkadang mereka juga sekedar iseng mengganggu teman yang lain. Misalnya saja misscall teman-teman yang lain, ada juga yang saling mengirim SMS, dan bahkan di SMS tersebut mereka sedang membicarakan guru yang sedang mengajar.
            Jadi kesimpulannya, salah atau tidaknya menggunakan ponsel pada saat jam pelajaran tergantung pada penggunaannya. Jika mereka menggunakannya untuk kegiatan yang bermanfaat dan tentunya dengan izin dari guru itu akan sangat menguntungkan, tetapi jika digunakan untuk kegiatan yang menyimpang dari pembelajaran, itu akan mengganggu konsentrasi mereka. Guru juga seharusnya bertindak tegas dalam menangani siswa yang menggunakan ponsel pada saat jam pelajaran.

Oleh:
Yemima Victory Sandi Saputri
X-10
28

Pemberlakuan Sistem Poin dalam Pelaksanaan Tata Tertib Sekolah

Pelanggaran. Peraturan. Baju seragam yang keluar. Sepatu bewarna yang mencolok warna. Kaus kaki yang terlalu pendek sehingga tidak terlihat oleh mata. Rambut para siswa perempuan yang dibiarkan terurai. Yang pria pun tidak mau kalah. Rambut mereka terkadang sudah menyentuh kerah tanpa disadari. Motor-motor yang diparkir sangatlah banyak sehingga membuat pertanyaan besar. Apakah  semua pengendara ini memiliki SIM maupun STNK? Pada masa tidak enak dulu-yang tidak tahu kapan- para siswa sangat takut melanggar peraturan. Sampai-sampai mereka meninggikan kaus kaki mereka sepanjang lutut seperti akan bermain sepak bola sehingga tidak akan berurusan dengan OSIS yang dapat memberi mereka poin. Bahkan mereka rela saja dipanggil nerd oleh teman-teman mereka.
 
Di SMA Negeri 1 Salatiga, peraturan, siswa, dan poin seperti rangkaian kata yang tidak dapat terpisahkan. Peraturannya terkadang bisa kita jalani tanpa merasakannya. Namun terkadang juga, peraturan itu sangatlah mengikat dan berat. Seperti peraturan yang baru diberlakukan, yaitu dilarang menginjak rumput. Harus memakai kaus kaki sepanjang 10 cm adalah peraturan berikutnya yang apabila tidak kita taati akan mendapatkan poin. Poin ini merupakan salah satu tolak ukur apakah kita akan tetap tinggal di sekolah itu atau pun tidak. Terkadang terdengar aneh jika kita dikeluarkan dari sekolah karena memakai kaus kaki pendek. Namun, peraturan dan poin itu terkadang terdengar sebagai pahlawan karena dapat mengeluarkan siswa yang bertindak semena-mena atau hal yang tidak baik lainnya.
 
Pemberlakuan poin ini sebetulnya sangatlah menguntungkan siswa. Poin ini akan menjaga siswa. Dari segi apa? Siswa hanya berpendapat bahwa peraturan dan poin itu mengekang kebebasan mereka. Namun lihatlah sisi baiknya. Siswa siswi tidak diizinkan membawa motor sebelum mempunyai SIM karena pihak sekolah mengkhawatirkan kemampuan mereka yang belum seberapa dalam menghadapi ramainya lalu lintas. Sekolah tidak mengizinkan siswanya membawa mobil ke sekolah karena dapat menimbulkan kesan kesenjangan sosial dan membuat siswa lain iri. Poin ini juga merupakan cara yang ‘ lebih baik ‘ daripada menghukum siswa secara fisik. Contohnya saja, jika ada siswa yang terlambat maka dia tidak harus berpanas-panasan dengan berdiri di depan tiang bendera. Cukup dengan menuliskan pelanggaran tersebut pada kartu poin. Penulisan poin ini, diharapkan agar perbuatan siswa tersebut tidak diulangi lagi. Terlihat bukan keuntungan peraturan?
 
Poin ini memanglah patut untuk diberlakukan di sekolah-sekolah. Poin ini akan menjaga tingkah laku para siswa baik dari cara mereka berpenampilan maupun cara mereka bertingkah di sekolah. poin ini dapat dikatakan sebagai  “pembuat tertib“ kedua setelah peraturan. Ironisnya, peraturan dan poin yang sangat menguntungkan ini, hanya dianggap angin lalu oleh siswa
 
Jadi, dapat ditarik kesimpulan bahwa peraturan dibuat untuk dipatuhi bukan untuk dilanggar. Lihatlah sesuatu jangan dari sisi negatifnya saja, namun dari sisi baiknya juga!

Lailia Nisfa Yudhi D.P.
X-10 / 13

Minggu, 22 Januari 2012

Pemberlakuan Sistem Poin dalam Pelaksanaan Tata Tertib Sekolah

           Pernahkah Anda mendapatkan poin ketika melanggar tata tertib sekolah? Dalam rangka meningkatkan standar moral bangsa yang dinilai makin menurun, sekolah-sekolah makin gencar menggalakkan pendidikan karakter bagi siswa-siswinya dengan berbagai cara. Salah satunya, dengan memberlakukan sistem poin dalam pelaksanaan tat tertib sekolah. Namun, seberapa besar pengaruhnya terhadap perkembangan moral siswa?
        Sistem poin adalah sistem pemberian poin apabila terdapat siswa yang melanggar tata tertib sekolah. Pemberian poinnya pun beragam, bergantung pada seberapa berat pelanggaran yang dilakukan oleh siswa yang bersangkutan. Pelanggaran ringan antara lain, mengenakan seragam tidak rapi, membawa kendaraan roda empat, membolos, sampai pelanggaran berat seperti membawa narkoba, terjerat kasus kriminal dan hamil di luar nikah. Apakah sistem tersebut efektif?
        Dengan adanya sistem poin, memang, siswa menjadi lebih patuh terhadap peraturan sekolah karena tidak ingin mendapat poin. Namun, sistem ini tidak mendidik siswa. Sistem ini terlihat seperti hanya untuk menakut-nakuti saja, karena pemberian hukuman yang hanya diberikan jika poin sudah menumpuk. Hal ini mendorong siswa untuk tetap melanggar peraturan. “Karena ‘toh hanya dapat sedikit poin, pasti saya tak akan dihukum.”
     Semua orang tentu ingin melihat sekolah dengan siswa yang disiplin dan peraturan yang berjalan sebagaimana mestinya. Untuk mewujudkannya, menurut saya lebih baik diadakan sistem hukuman secara langsung terhadap pelanggar. Tentunya bukan dengan kekerasan, melainkan hukuman yang mendidik dan member efek jera bagi pelakunya. Sebagai contoh, apabila ada siswa yang terlambat hadir ke sekolah maka siswa tersebut tidak diperkenankan mengikuti pelajaran jam pertama, tetapi diharuskan membantu CS membersihkan lingkungan sekolah. Apabila ada siswa yang membawa rokok atau merokok di sekolah maka pihak sekolah akan memanggil orang tuanya lalu memutuskan hukuman apa yang akan diberikan. Dengan cara tersebut tentunya lebih efektif dibandingkan hanya menyita rokok lalu memberi poin. Begitu juga dengan pelanggaran ringan lain akan diganjar hukuman yaitu membersihkan lingkungan sekolah.
     Dengan demikian, hukuman tersebut mendidik dan bermanfaat daripada berdiri di tengah lapangan, penyitaan, pengurangan nilai, atau skorsing. Sistem tersebut membuat pelanggar jera, lingkungan sekolah pun akan terlihat makin bersih dan asri.
                
Oleh :
Hapsara Adiwena
X-10 / 11

Paragraf Argumentasi



Pendidikan Karakter Melalui Kantin Kejujuran
            Pada era saat ini karakter karakter bangsa yang baik sudah mulai pudar salah satunya adalah karakter untuk jujur. Misalnya, seringkali kita melihat di berbagai media elektronik pemerintah-pemerintah yang tidak bertindak jujur dalam melakukan tugas mereka. Sebagai bangsa yang masih dalam masa perkembangannya tentunya sangat diperlukan generasi generasi masadepan yang memiliki karakter baik, yang paling utama dari itu ialah berkarakter jujur. Jujur adalah karakter seseorang yang berkata ataupun melakukan sesuatu sesuai dengan kebenaran. Berhubungan dengan hal tersebut banyak sekolah-sekolah yang mendirikan “Kantin Kejujuran “ sebagai usaha sekolah dalam membangun karakter Budi Pekerti yang baik .
            Dengan adanya “kantin kejujuran” tentu saja sangat membantu orangtua dalam mendidik  para siswa agar dapat berkarakter baik dan berguna bagi bangsa kelak di masadepannya. Kantin kata yang tidak asing di telinga pelajar tentunya, kantin adalah sebuah tempat yang biasanya para siswa berkumpul ketika sedang istirahat atau jeda pelajaran. Yang dilakukan dari kebanyakan mereka adalah untuk mengisi perut mereka yang kosong . Biasanya mereka berdesak-desakan untuk membeli sesuatu atau bahkan sampai malasnya mengantre dan berdesak desakan mereka malah tidak membayar. Nah.. dengan didirikannya Kantin Kejujuran siswa yang sebelumnya tidak mau membayar akan merasa malu bila tidak membayar terhadap teman-temannya ataupun pegawai yang mengawasi dan akhirnya mau membayar.
            Mungkin kantin ini masih asing di telinga para siswa karena mereka yang belum terbiasa dengan aturan main dalam kantin ini. Terlebih dengan metode pemasarannya yang sangat berbeda entah itu pembeliannya ataupan pengembalian uangnya. Akhirnya siswa menjadi enggan membeli keperluan mereka di kantin tersebut.oleh Karena itu pengenalan yang lebih lagi akan kantin ini mungkin bisa membantu mempromosikannya kepada para siswa sehingga mereka sadar akan manfaat adanya kantin ini. Apa sebenarnya manfaat Kantin Kejujuran bagi para siswa?
            Kantin kejujuran mempunyai peranan yang sangat berguna salahsatunya bisa mendidik kita untuk terbiasa berkarakter jujur.mengapa bisa seperti itu? Tentu saja bisa karena Sistem yang diperlakukan dalam kantin ini yaitu siswa harus berbuat jujur dengan mengambil barang sendiri membayar ataupun mengambil kembalian. Sudah terlihat jelas sekali dalam sistem ini bahwa sifat kejujuran sudah diterapkan. Selain itu tentunya siswa juga dituntut untuk mengikuti aturan aturan yang ada dalam “kantin Kejujuran”.
lama kelamaan siswa akan terbiasa dengan perilaku jujur dan karakter -karakter baik pun juga akan tumbuh dalam diri masing-masing siswa. Jika sistem pendirian kantin ini dapat berhasil maka kita tidak akan kesusahan dalam mencari generasi-generasi muda yang berkarakter baik. Dan tentunya hal ini sangat membantu bangsa kita sendiri untuk maju menjadi bangsa yang lebih baik dengan karakter bangsa yang kuat pada setiap individu.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa “Kantin Kejujuran “ sangat berperan dalam menumbuhkan karakter karakter baik bagi bangsa. Kantin Kejujuran memiliki peran membantu para orangtua dalam mendidik anak anak mereka untuk berkarakter bangsa yang baik dan tentunya mampu menciptakan generasi-generasi muda yang memiliki karakter untuk hidup jujur. Sehingga bangsa kitapun bisa melangkah menjadi Negara yang lebih maju. Jadi kantin kejujuran merupakan salahsatu sarana untuk menumbuhan Karakter budi pekerti bagi pelajar.

Nanda Christia Wandani
X-10 / 17
                    

Rabu, 14 Desember 2011

Lapangan Baru SMAN 1 Salatiga

Siang itu, kira-kira pada jam 13.23 aku mengamati keadaan di Lapangan SMAN 1 Salatiga.
Ya! Sekolah ku mempumyai lapangan baru. Bukan, lapangan sekolah kami tidak bertambah menjadi 2, lapangan sekolah kami tetap ada satu. Ya, satu!

Lalu apa yang membuatku mengatakan bahwa lapangan itu baru?
Lapangan sekolahku sekarang, ditumbuhi oleh rerumputan hijau dan ada lintasan lari dari remukan batu bata merah. Tampak seperti Stadion olahraga.


Lapangan kami yang sekarang terlihat tampah asri dan hijau dibandingkan lapangan yang dulu.Ditambah pohon jambu air di sekolah kami sudah merontokkan buah-buahnya.

Suasana sekitar lapangan pada saat aku mengamatinya, tidak terlalu ramai. Hanya segelintir orang saja yang berlalu-lalang karena waktu itu sedang ada jam pelajaran. Lapangan yang kukatakan tampak asri dan hijau ini sebenarnya belum sepenuhnya selesai diperbaiki. Akan tetapi, lapangan ini sudah terlihat nyaman untuk menyejukkan mata.

rindang m-23

Jumat, 02 Desember 2011

Deskripsi Lapangan SMA Negeri 1 Salatiga

Kamis, 27 Oktober 2011
Pukul 12.20

      Lapangan SMA Negeri 1 Salatiga cukup luas. Saat ini, lapangan sedang direnovasi. Lapangan SMA Negeri 1 Salatiga sudah berumput, walaupun belum rata. Di sana juga masih dipasang banyak tali rafia, ada juga potongan-potongan bambu ditancapkan di sekelilingnya. Masih ada juga selang yang biasanya digunakan untuk menyirami rumput, masih tergeletak di sana.
       Di sekeliling lapangan kini terdapat lintasan lari dan taman kecil. Banyak bunga yang ditanam di sana. Lapangan SMA Negeri 1 Salatiga dikelilingi banyak bangunan. Di sebelah utara ada gedung kelas X dan 3 pohon jambu air, yang katanya, jambu air dari pohon itu rasanya sangat manis. Di sebelah selatan ada gedung kelas XII, dan ada pohon-pohon yang tidak ada daunnya. Di sebelah timur ada ruang guru, lab, TU, kurikulum, dan beberapa tempat utama di SMA Negeri 1 Salatiga. Sedangkan di sebelah barat lapangan terdapat gedung kelas XI dan beberapa kelas X.
          Suasana di lapangan ini sangat sepi,, tidak ada orang. Hanya ada banyak capung beterbangan di sana.

Elsa Narwastu Rosita
X-10 / 07

Kamis, 01 Desember 2011

DESKRIPSI LAPANGAN SMA N 1 SALATIGA



          Pada hari kamis tepatnya tanggal 27 Oktober 2011, saya beserta teman-teman saya anak-anak kelas X-10 pada saat jam pelajaran Bahasa Indonesia mendapat tugas untuk mendeskripsikan lapangan di SMA Negeri 1 Salatiga. Begitu saya keluar dari kelas, dan menuju ke arah lapangan. Saya mulai merasakan udara yang cukup panas dan kebetulan cuaca pada hari itu sedang berawan.
          Dan saya pun memulai pengamatan saya, di sekitar lapangan saya melihat ada beberapa pohon serta tanaman lainnya yang mulai tumbuh. Lapangan yang baru saja di perbaiki sudah terlihat cukup baik, serta masih terlihat rumput yang tumbuh tidak merata di lapangan. Pasir yang ada di lapangan seakan menjadi satu dengan rerumputan yang sedang tumbuh. Masih ada kerikil-kerikil pasir di sekitar lapangan yang tersebar di sela-sela rumput yang tumbuh. Di sekeliling lapangan masih terdapat beberapa patok yang terbuat dari bambu. Pada pinggir lapangan di buat lintasan lari yang terbuat dari batu bata yang di hancurkan. Juga terlihat selang dan alat pemompa air di bagian samping lapangan yang di gunakan untuk menyiram rumput di lapangan.
          Pada bagian barat lapangan dekat dengan kelas XII IA 3 terdapat tiang bendera yang menjulang tinggi. Di sebelah utara lapangan tepatnya di depan perpus sekolah terdapat beberapa pohon jambu air yang sedang berbuah lebat.
pada bagian selatan atau di depan gedung kelas XII terdapat lahan kosong yang tidak tertata dengan baik, masih ada sisa-sisa bangunan yang di robohkan.
          Setelah selesai berkeliling dan mencatat hasil pengamatan lapangan. Saya beserta teman-teman berkumpul di depan kelas X-8 untuk berdoa dan mengakhiri kegiatan kami. Setelah selesai saya bersalaman dengan Bu Uswatun dan tidak sabar rasanya saya ingin bergegas pulang ke rumah untuk tidur.
Oleh : Yeremia Krisna Dika Mahendra /29